Mas, Jangan pake Emas!

Tulisan ini disalin dari blog pribadi Ketua RKI. Semoga berkenan menyimak 🙂

Wah, bulan ini banyak yang nikah ya. Bahagianyaaa. Semakin banyak yang laksanakan sunnah rasul, ibadah penyempurna setengah dien.Ya, menikah adalah ibadah, ibadah paling indah dan paling disukai ummat Rasulullah SAW.
Ada sebuah riwayat:
“Rasulullah saw. datang dan bertanya: apakah kalian yang mengatakan begini dan begini? Sesungguhnya saya lebih bertakwa dan lebih khusyu’ kepada Allah swt. Di bandingkan kalian, akan tetapi saya tetap berpuasa dan saya juga berbuka, saya juga shalat dan istirahat (berbaring), dan saya juga menikahi perempuan, maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku maka dia bukan dari umatku”. (Muttafaqun ‘alaih, di sepakati oleh Bukhari dan Muslim).
Sayangnya, pernikahan masa kini sepertinya banyak sekali tuntutannya. Selain beberapa hal yang sudah pernah saya bahas di blog pribadi saya, tuntutan lainnya juga mau tak mau muncul dari masyarakat Indonesia yang masih enggan tinggalkan adat istiadatnya. Walaupun sebetulnya, adat istiadat itu bertentangan dengan hukum agama. Well, saya memang tidak ahli untuk urusan fiqih atau yang beginian. Tapi paling tidak, untuk tulisan kali ini, saya merujuk kepada ahlinya, mencari referensi hadits-hadits shohih yang mudah-mudahan bisa menambah khazanah kita tentang fiqih 😀
Ada beberapa perkara yang sangat saya sayangkan dalam pernikahan di masyarakat sekitar yang seharusnya berjalan sakral, khidmat, bernilai ibadah di mata Allah, tapi ‘terpaksa’ dicampur adukkan dengan hal-hal tak perlu, bahkan tak jarang perkara yang kita sudah tau hukumnya haram. Contoh yang umum adalah cincin kawin.Dalam sebuah pernikahan, tak afdhol rasanya kalau tak ada prosesi pemasangan cincin kawin, bahkan tukeran cincin. Dan sayangnya, cincin yang dipake biasanya emas. Nah, lakilaki pakai emas kan haram.
Bukan saya yang bilang, tapi Baginda Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Abi Musa ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Telah diharamkan memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi wanitanya.” (HR Turmuzi dengan sanad hasan shahih).
Pembahasan komplitnya bisa dibaca sendiri di sini dan sini.
Sayang sekali kan kalau ibadah yang nilainya sama dengan separuh agama harus ternoda nilainya dengan perkara haram. Rugi aja gitu ya rasanya kalo sampai jadi tak berkah, atau berkahnya berkurang akibat suatu hal yang kita sudah tau hukumnya, tapi masih kita laksanakan 😦
Yah, semoga saja yang sudah terlanjur pake emas di hari akad nikahnya, waktu itu belum tau tentang hukum pakai emas untuk lelaki, dan kalaupun sudah tau, semoga diampuni Allah dan tetep diberkahi pernikahannya. Yang belum akad nikah tapi sudah berencana akan ada prosesi tuker cincin, ayoo coba bujuk lagi orang tuanya dan kasi pengertian ke mereka sekali lagi, oke. Atau, kalopun emang pengen menjadikan itu sekedar sebagai simbol pernikahan, yang lakilaki cincinnya jangan yang terbuat dari emas 😀
Selain tukeran cincin, adat lain yang bertentangan dengan syariah Islam adalah prosesi tepung tawar. Kalo tentang ini, sebelum menikah dulu rupanya suami saya *waktu itu masih calon* sudah browsing sana sini. Maklum, kami berdua samasama dari suku melayu yang kalo adakan akad nikah, umumnya orang pake adat tepung tawar atau cucur air mawar. Maka, demi mencegah terjadinya campur aduk sunnah dalam pernikahan kami kala itu, dikasi deh beberapa artikel ini ke keluarga kami:
Itulah beberapa hal tentang pernikahan yang telah kami jalankan. Alhamdulillaah, ketika akad nikah kami, tak ada prosesi tukeran cincin. Hanya saya yang pake cincin. Bisa liat sendiri di foto di atas kan, tangan suami saya ga pake cincin hehehe. Dan juga, prosesi cucur air mawar yang tadinya keukeuh pengen ibu saya laksanakan, berhasil dicegah dengan bujuk dan rayuan maut calon mempelai pria yang saat ini telah menjadi suami saya 😀 Alhamdulillaah yaa..
Kami doakan, semoga teman-teman yang dalam waktu dekat berencana menikah, prosesi pernikahannya lancar, bebas dari campur aduk adat istiadat yang dalam syariah Islam hukumnya haram, serta penuh berkah. Pernikahan yang penuh berkah akan membawa berkah pula bagi sekeliling kita, tak hanya untuk kedua mempelai saja, Insha Allaah 🙂

Kultwit @salimafillah tentang Walimah

1.      “Untuk tiap pernikahan <Riwayat Lain: sepasang pengantin>, selenggarakanlah #Walimah” (HR Ahmad [5/359] Ath Thabrani [I: 112/1], dll)

2.      Pengertian & fungsi #WALIMAH: “..Rahasiakan pinangan, UMUMKANLAH PERNIKAHAN..” (HR Ibnu Hibban [1285], Ath Thabrani (I: 1/69], dll)
3.      Bentuk #Walimah; “..RasuluLlah utus saya utk mengundang orang-orang hadiri JAMUAN MAKAN..” (HR Al Bukhari IX/189-194, Al Baihaqi VII/260)
4.      Alternatif tempat & acara #Walimah: “Umumkan pernikahan ini, adakan di Masjid, meriahkan dengan tabuhan rebana!” (HR Ahmad & At Tirmidzi)
5.      Alt tempat #Walimah: “Ketika Abu Usaid As Sa’idi menikah, dia undang Nabi & sahabat ke RUMAHnya..” (HR Al Bukhari IX/200, Muslim VI/103)
6.      Waktu: “..Beliau SAW jadikan pembebasan Shafiyyah sbg mahar & ber #walimah 3 hari” (Abu Ya’la dikutip Al Fath IX/199, Al Bukhari VII/387)
7.       #Walimah ‘Abdurrahman ibn ‘Auf hidangannya daging kambing. (HR Al Bukhari IV/232, An Nasa’i II/93, Al Baihaqi VII/258, Ahmad III/165 dll)
8.      Nabi SAW & Zainab hidangannya roti & daging. (HR Al Bukhari VII/387, Abu Dawud II/137, Ibn Majah I/590, Ahmad III/98, dll)
9.      Nabi SAW & Shafiyyah TANPA daging; hanya snack dari kurma, keju &
samin (Muslim IV/147, An Nasa’i II/93, Al Baihaqi VII/259 dll)
10.  Orang kaya disilakan menyumbang #Walimah, ie saat nikah Nabi SAW-Shafiyyah (HR Al Bukhari, Muslim IV/148, Ahmad III/102, Al Baihaqi dll)
11. Utamakan undang nan shalih: “..Upayakan makananmu dinikmati orang bertaqwa..” (HR Abu Dawud, Al Hakim IV/128, Ahmad III/28 dll) #Walimah
12. Undang tanpa membeda: “Sejelek-jelek jamuan adalah yang hanya mengundang orang kayanya saja.” (HR Muslim IV/154, Al Baihaqi VII/262)
13 “Barangsiapa <sengaja tanpa ‘udzur> tidak memenuhi undangan #Walimah, dia telah durhaka pada Allah & Rasul-Nya” (HR Al Bukhari IX/201)
14. Hadiri undangan #Walimah, makanlah hidangannya. Jika puasa, tetaplah mendoakan. (HR Muslim IV/153, An Nasa’i II/62, Ahmad II/507, dll)
15.      Dalam #Walimah, kikislah peran oknum, ritual, & perangkat yang bernuansa kemusyrikan. Jika keluarga teguh beradat, bicarakan sejak awal.
16.      “Barangsiapa datangi peramal, atau dukun lalu percaya apa nandikatakan, telah kufur thdp apa yang diturunkan pada Muhammad.” #Walimah
17.       (HR Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibn Majah, Al Hakim) Upayakan bersih proses #Walimahsehingga berkah nikah hingga ke surga ya:)
18.      Contoh bentuk hal yang dihindari: “Tidak ada ‘Adwa, Thiyarah, Hamah, dan Shafar. Tidak pula Nau’ serta Ghul.” (HR Al Bukhari & Muslim)
19.      ‘Adwa: penyebaran penyakit krn hitungan angka/keadaan tertentu. Thiyarah: merasa akan bernasib sial/beruntung krn suatu tanda. #Walimah
20.      Thiyarah dari kata Thair: burung. Jahiliah Quraisy anggap burung sebagai tanda sial & untung. Pada kita: tertimpa cicak, dll.#Walimah
21.      Hamah: burung hantu nan dianggap pembawa musibah. Shafar: bulan yang dianggap waktu sial orang Quraisy (kita: Muharram). #Walimah
22.      Nau’: bintang yg dianggap bw hujan & kesuburan. Ghul: hehantuan, genderuwo, dll yg dianggap membahayakan jika tak diberi sesaji #Walimah
23.      “Sesiapa gantungkan suatu benda (dg anggapan memberi manfaat, menolak bahaya, dll) mk Allah jadikan ia terbelenggu barang itu.” #Walimah
24.      (HR Ahmad & At Tirmidzi) Sungguh indah Tweeps Shalih(in+at), memperjuangkan kebersihan #Walimahkita pada keluarga nan beradat ketat;)
25.      Jadikan #Walimah kita sbg da’wah kepada Ortu & keluarga besar. Salim sdh bernegosiasi ttg walimah yg Salim kehendaki sejak kelas 2 SMA;)
26.      Sajikan hiburan syar’i dalam #Walimah. Pembeda yang haram & halal adalah reramaian-nya. (HR An Nasa’i II/91, At Tirmidzi II/170, dll
27.       Jadi di antara penanda nikah adalah terang-terangan, diumumkan, dirayaramaikan, di #Walimah-kan. ‘Nikah sirri’ sebenarnya konsep absurd.
28.      Hingga jika tak mampu selenggarakan #Walimah, pasangan sebaiknya umumkan resmi pernikahannya pada khalayak lewat segala yg memungkinkan
29.      Hiburan: “Sebaiknya kamu sertakan utk mempelai itu orang2 yg bersenandung, “Kami dtg.. kami dtg. Marilah kami.. Marilah kalian”#Walimah
30.      (HR Ibnu Majah, hasan menurut Al Albani, takhrij dalam Irwaa-ul Ghalil 1995). Jadi senandung, nyanyian, & rebana adalah SUNNAH#Walimah
31.      Syarat hiburan #Walimah: ISI-nya tidak mengharamkan yang halal, & sebaliknya. Tidak memuji yang haram (ie khamr, zina), & sebaliknya.
32.      Syarat hiburan #Walimah: ISI-nya tak menggambarkan hal yang fasiq, rafats, dusta. PENAMPIL-nya memenuhi adab-adab dasar, menutup aurat.
33.      Jauhkan minuman memabukkan dr menu #Walimah: “..Jangan sampai mengitari meja makan yg tersaji khamr di atasnya.” (HR Ahmad, At Tirmidzi)
34.      Hindarkan tabarruj dalam riasan mempelai saat #Walimah (QS Al Ahzab
35.      Berhiaslah sekadarnya, & kecantikan alami pasti kan bercahaya;)
36.      Tabarruj kata Mujahid (murid Ibn ‘Abbas) ialah keluar memamerkan diri dengan riasan yang menampakkan apa nan seharusnya dijaga. #Walimah
37.      Hindari kikir gigi, sambung rambut, cukur alis, tato/gambar bentuk-warna di wajah. (HR Al Bukhari X/306, Muslim VI/166, dll) #Walimah
38.      Menjadi tampan & cantiklah wahai mempelai saat #Walimah, dalam pesona sejati nan memancarkan suci, sahaja, & syahdu keshalihan. #Walimah
39.      Menjadi pengantin ber #Walimah sering disebut raja sehari. Tapi ternyata lbh indah & mulia lagi, mempelai nan rendah hati melayani tamu.
40.      Abu Usaid As Sa’idi & isterinya sambut tamu nan mendoakan & terlibat menghidang jamuan #Walimah(HR Al Bukhari (IX/200, Muslim (VI/103)
41.      Sebab melatih tanggungjawab pada masyarakat, lelah mereka di hari #Walimah insyaallah jadi cerita nan menguatkan ikatan antar mempelai.
42. Memisahkan area tamu lelaki & perempuan dalam #Walimah itu sungguh utama, tapi upayakan tak menghalangi komunikasi nan malah merepotkan.
43. Tujuan para tamu nan menghadiri #Walimah ialah mendoakan. Jadilah mempelai nan rendah hati memohon doa hadirin & mudahkan jalur mereka.
44. Tujuan ber #Walimah jua untuk mengumumkan nikah & memohon doa, hindari pemborosan & kemubadziran dalam pernak-pernik nan tak perlu.
45. Dalam menghadiri #Walimah, niatkanlah untuk ibadah, penuhi hak undangan sesama muslim nan berpahala besar.
46. Berpenampilan yang baik untuk silaturrahim & mendoakan mempelai, menutup ‘aurat dengan sempurna, berhias & berdandan nan wajar. #Walimah
47. Tamu nan ranggi memperhatikan adab makan: “Sebut asma Allah, makanlah dengan tangan kanan, ambillah nan dekat.” (HR Al Bukhari & Muslim)
48. Sungguh terhormat yang berupaya makan & minum dlm duduk nan elegan. “Nabi melarang makan & minum sambil berdiri & bersandar” (HR Muslim)
47. Tamu #Walimah memperhatikan adab makan: “Sebut asma Allah, makanlah dengan tangan kanan, ambillah nan dekat.” (HR Al Bukhari & Muslim)
48. Terhormatlah yang berupaya makan & minum dlm duduk elegan. “Nabi melarang makan & minum sambil berdiri & bersandar” (HR Muslim) #Walimah
49. “Sekali-kali Nabi tdk prnh cela makanan. Bila mau, beliau makan. Bila tak berkenan beliau tinggalkan” (HR Al Bukhari & Muslim) #Walimah
50. Syukuri hidangan #Walimah nan tersaji dgn senyum, tak mencela, & #Doa: Allahummaghfir lahum, warhamhum, wa barik lahum fi ma razaqTahum
51. #Doa itu berarti: “Ya Allah ampunilah pemilik hajat, sayangilah mereka, & berkahlilah rizqi yang Kau angerahkan pada mereka. “#Walimah
52. Doakan mempelai dlm #Walimah: BarakaLlaahu lak, wa baraka ‘alayk, wa jama’a baynakumaa fi khayr.
Maher Zain:baynakumaa fi khayr. Maher Zain:http://youtu.be/9S31OxE9O6U
53. Doa #Walimah itu bermakna: Semoga Allah berkahi dlm hal nan menyenangkan, jua berkahi dlm hal tak mengenakkan, & satukan dalam kebaikan.
54. Pengajian, ceramah dll itu baik. Tapi jangan sampai jadi menu utama #Walimah. Sebab kadang nan hadir hendak bersegera untuk acara lain.
Disalin dari: Ummu Shofiyyah Blog