Kisah Seorang Nelayan dan Sang Investor

Seorang investor berada di dermaga di sebuah desa kecil pesisir pantai, ketika seorang nelayan dengan perahu kecilnya memasuki dermaga. Sang investor memuji kualitas ikan hasil tangkapan nelayan dan bertanya perlu berapa lama menangkap ikan-ikan tersebut.

Nelayan tersebut menjawab, “hanya sebentar kok”

Sang investor kemudian bertanya, “Loh, kenapa tidak berlayar lebih lama agar bisa dapat lebih banyak ikan?”

Jawab nelayan, “Segini pun cukup untuk penuhi kebutuhan keluarga saya pak”

Investor tersebut heran dan bertanya, “Lalu selain itu, sisa waktu anda dipake untuk apa?”

Nelayan menjawab, “Saya tidur agak larut, memancing sejenak, bermain dengan anak-anak, tidur siang bersama istri, jalan-jalan ke desa, menghabiskan waktu bersama keluarga, saya cukup sibuk :)”

Sang investor, dengan nada bangga berkata, “Saya lulusan S2 Harvard, saya bisa membantu anda. Anda seharusnya lebih sering lagi pergi menangkap ikan, dan dengan hasil tangkapan anda, belilah kapal yang lebih besar. Dengan hasil tangkapan dari kapal yang lebih besar, anda bisa beli beberapa kapal lagi. Daripada menjual hasil tangkapan anda kepada para pedagang kecil, sebaiknya jual ke pabrik saja. Kalau perlu, buat pabrik pengalengan ikan sendiri. Anda bisa kontrol sendiri produk, proses, hingga distribusinya. Anda sebaiknya tinggalkan desa kecil ini, lalu pindah ke kota besar. Di kota besar, anda akan kembangkan perusahaan anda”

Nelayan tersebut bertanya, “perlu waktu berapa lama untuk mencapainya?”

“15 – 20 tahunan lah”, jawab sang investor.

“Lalu, kalau sudah tercapai?” tanya nelayan.

Investor tersebut tertawa dan mengatakan itulah bagian terbaiknya. “Ketika tiba waktunya, anda akan umumkan IPO (Initial Public Offering) dan jual saham perusahaan anda kepada khalayak. Anda akan kaya raya, anda akan jadi jutawan”

“Jadi jutawan, lalu?”

Sang investor berkata, “Yah, lalu anda akan pensiun. Pindah ke desa kecil di pesisir pantai di mana anda akan tidur larut malam, memancing sejenak, bermain dengan anak-anak, tidur siang dengan istri anda, jalan-jalan ke desa, dan menghabiskan waktu bersama keluarga anda”.

Silakan dipetik sendiri hikmahnya 🙂

Catatan Gaza 2: Dari Kinanah ke Bumi AlQur’an

 ‪
Catatan GAZA-2: Dari Kinanah ke Bumi Al Quran

“Dahulu kami meninggalkan Al Quran”; ujar seorang bapak dari keluarga Syamallekh di Masjid Syaikh ‘Ajleyn sebakda Shubuh ketika kami berhalaqah Quran; “Maka Allah pun mencampakkan kami dalam kehinaan di kaki penjajah Zionis. Kami terjajah, tertindas, & hancur; lalu mencoba mencari pegangan dalam gelap; harta, kedudukan, senjata. Tapi itu semua hanya membuat kami kian terpuruk. Kini kami kembali pada KitabuLlah; alhamduliLlah, kami bisa berdiri tegak, berwajah cerah, & bersemangat dalam perlawanan seperti kalian saksikan.”
Ya, kami memang menyaksikannya. Amat keliru jika membayangkan Gaza itu miskin, kumuh, sakit, sedih, & lesu. Yang kami saksikan di mana-mana sejak masuk dari Rafah adalah ketegaran, senyum yang mengembang, sambutan yang hangat; bahkan juga betapa rapi, bersih, hijau, jelitanya kawasan. Setidaknya bila dibandingkan tetangganya; Mesir si ibu peradaban.

Kami bersyukur memasuki Gaza ketika Presiden Mesir sudah bukan lagi Husni Mubarak. Al Akh Muhammad Mursi; jazahuLlahu khairan katsira. Menurut seorang Relawan yang pernah masuk Gaza tahun lalu; betapa terhina kita di hadapan petugas imigrasi Mesir kala itu.

Sepuluh pos pemeriksaan oleh tentara sejak dari jembatan Terusan Suez hingga gerbang Rafah sudah menyulitkan dengan berbagai tanya & penggeledahan; belum lagi wajah yang suram, jelek, & mengejek itu. Dan akhirnya; keleleran bagai pencari suaka dengan jam-jam menunggu yang tak jelas di tengah tatapan angkuh & melecehkan wajah-wajah yang seakan begitu asing dari wudhu’ & membenci semangat berkeshalihan.

Al Akh Muhammad Mursi; jazahuLlahu khairan. Kini wajah tentara & petugas imigrasi berubah; bukan cuma cerah oleh wudhu’, sebagiannya malah berbekas sujud. Senyum bertebaran, dan ada yang berkata titip cinta untuk Gaza. Pos-pos pemeriksaan tentara tak lagi menghalangi; justru mereka menyediakan pengawalan 2 mobil patroli; yang meski justru agak memperlambat; tapi kami memahami maksud baiknya. Di gerbang imigrasi Mesirpun hanya soalan sederhana, “Sudah berkoordinasi dengan Gaza?” Saat dijawab ya; dia tersenyum dan membubuhkan capnya. Lega. AlhamduliLlah.

Maka dibanding Kairo yang hiruk pikuk, Gaza adalah kesyahduan. Dari Sinai yang gersang, Gaza adalah kesejukan. Alih-alih El ‘Arisy yang nyaman, Gaza adalah kemesraan. Sejak Rafah-Gush Katif-Khan Yunis-Deiril Balah-Gaza City-Jabaliya; yang tampak bukan keterjajahan melainkan perlawanan; bukan kesayuan namun kegairahan; bukan keputusasaan tapi cinta yang bermekaran. Di tanah istimewa ini lahir Al Imam Asy Syafi’i; mungkin di antara zaitun terbaik, anggur tersegar, farwalah yang manis & merah, serta angin Laut Tengah yang menderu gagah.

“Dulu kami meninggalkan Al Quran”, ujar si bapak dari keluarga Syamallekh itu. Perhatikan kembali kalimat-kalimatnya di awal tulisan ini yang mencerminkan pemahaman amat mendalam terhadap hakikat perjuangan. Apakah dia Syaikh, ‘Alim, Faqih? Bukan. Hanya seorang karyawan toko bersahaja. Bahkan bacaan Qurannya yang penuh semangat pun berulang-kali harus dibetulkan sebab terbiasa berdialek ‘ammiyah yang tak fasih. Tapi dari itu kita tahu; ideologi muqawamah telah tertanam ke segenap dada warga Gaza; pemimpin maupun jelata, kaya maupun papa, ‘ulama maupun biasa.

Dan kamipun menjumpai halaqah Quran itu di mana-mana; di tiap Masjid, sekolah, bahkan kantor, toko, & poliklinik. Di sebuah pusat layanan kanker yang sedang akan dikembangkan; ada ruangan penuh kanak-kanak. Bermuraja’ah dibimbing seorang perawat. Mas-ul Darul Quranil Karim, Syaikh Dr. ‘Abhdurrahman Jamal membawahi sebuah lembaga akbar yang mengelola tahfizh puluhan ribu orang; merawat hafalan; melaksanakan pengajian Tafsir, Sirah, & Hadits di berbagai Majelis; serta menyelenggarakan Daurah Shaifiyah yang alumninya kanak-kanak berhafizh lengkap dalam 2 bulan.
Apa pekerjaan utama para mujahid? Salah seorang komandan tempur berkata, “Mengaji! Kemudian mengaji! Kemudian mengaji!” Maka sungguh; senjata-senjata yang ditembakkan para pejuang Kataib ‘Izzuddin Al Qassam ke arah Zionis hanyalah kembang api perayaan dari sebuah kebangkitan yang telah tumbuh di dada orang-orang Gaza. Al Quran.

Gaza hari ini semarak oleh aneka gerai yang berebut perhatian; dari roti hingga mobil, dari es krim hingga meubel; tapi alhamduliLlah, keramaian terbesar tetap masjid-masjid kala shalat jama’ah dan halaqah Quran. Anak-anak kecil berlari di jalanan tanpa takut; cita-cita mereka semua sama & tak dapat ditawar; “Syahid fi sabiliLlah!” Bagaimana caranya? “Dengan Al Quran!”, jawab mereka. Sebab anggota Kataib ‘Izzuddin Al Qassam yang ribath di garis terdepan dipilih dari mereka yang paling mesra dengan Al Quran.

Ya Allah; jadikan kunjungan kami ke Gaza ini membuka pipa-pipa saluran keberkahan & kekudusan bumi serta penduduknya nan mulia ini untuk digerojokkan ke negeri kami. Mulia dengan Al Quran.
 

Salim A. Fillah

hamba Allah yang tertawan dosanya, santri yang tertahan kejahilannya, berharap ada manfaat dalam faqir & dha’ifnya | pelayan Majelis Jejak Nabi

Dakwah dengan Hikmah

Berdakwah tidak boleh dilakukan dengan gegabah dan sembarangan, karena telah ada rambu-rambu metode yang digariskan Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Tidak cukup berbekal semangat dan tekat untuk melakukan dakwah, namun harus disertai dengan pemahaman yang benar tentang bagaimana dakwah harus dilakukan. Allah Ta’ala telah memberikan pedoman dalam menunaikan dakwah, di antaranya dengan metode hikmah sebagaimana firmanNya :

“Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik” (QS. An Nahl : 125).

Ayat di atas memberikan beberapa petunjuk terkait metode dakwah. Di antara pelajaran fiqih dakwah yang bisa kita ambil dari ayat di atas adalah :

1. Dakwah harus dilakukan dengan hikmah

Salah satu metode dakwah adalah hikmah, sebagaimana perintah ayat di atas. Dari segi bahasa, kata al hikmah menurut kitab Al Qamus Al Muhith, bermakna adil, lembut, kenabian, Al Qur’an, dan bagusnya pemikiran. Adapun dari pengertian syara’, al hikmah memiliki banyak makna, di antaranya adalah ketepatan ucapan dan perbuatan, sebagaimana ditulis dalam Tafsir Ath Thabari dan Tafsir Ar Razy. Dalam kitab Al Bahrul Muhith, hikmah dimaknai sebagai meletakkan segala sesuatu pada proporsinya.

Ath Thabari dan Ibnu Katsir memaknai al hikmah sebagai mengetahui Al Qur’an dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya. Kata al hikmah juga bermakna as sunnah, sebagaimana diungkapkan oleh Ath Thabari, Ibnu Katsir, dan Ar Razi. Dalam kaitan al hikmah yang bermakna as sunnah, bisa pula didapatkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat ke 129, 151, dan 231; surat Al Ahzab ayat ke 34 dan surat Al Jum’ah ayat ke 2.

Makna-makna tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Seseorang da’i tidak akan bisa berbicara yang benar, berbuat yang benar serta sesuai antara ucapan dengan perbuatan jika tidak memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Demikian pula seseorang da’i tidak akan bisa meletakkan sesuatu secara proporsional jika ia tidak memahami ketentuan syariat yang termaktub dalam Al Qur’an dan sunnah Rasul.

Dari berbagai pengertian secara bahasa maupun pengertian syara’ di atas, Dr. Ali Abdul Halim Mahmud menyimpulkan, bahwa yang dimaksud dengan hikmah di dalam dakwah adalah berbuat yang tepat dengan cara yang tepat pada waktu yang tepat. Sedangkan Muhammad Abul Fathi Al Bayanuni menyebutkan, di antara aplikasi hikmah dalam dakwah adalah menyusun prioritas (aulawiyat) gerakan, bertahap dalam merealisasikan prioritas gerakan, serta memilih metode yang tepat untuk kondisi dan kapasitas mad’u yang tepat.

2. Aplikasi metode hikmah telah dicontohkan pada dakwah Nabi Saw

Aplikasi metode dakwah dengan hikmah telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Perilaku beliau yang selalu berlaku lembut dan santun kepada semua orang, namun ada saatnya Nabi mengomando para sahabat untuk mengangkat senjata memerangi musuh, adalah aplikasi hikmah. Ada kalanya menahan diri, tetapi ada pula saat berperang. Ada masanya beliau berdakwah secara siriyah (tertutup), tetapi ada pula masanya untuk berdakwah secara jahriyah (terbuka).

Tahap-tahap dakwah yang dilalui oleh Nabi saw adalah contoh dari hikmah dalam dakwah. Nabi saw tidak melakukan dakwah dengan memukul rata semua kondisi, semua masa, dan semua manusia. Beliau melakukan dakwah dengan tahapan-tahapan yang jelas sebagaimana pentahapan dalam turunnya Al Qur’an. Apabila tidak bertahap dalam melakukan dakwah, justru akan memunculkan ketidaksiapan masyarakat dalam menerima seruan kebenaran. Aisyah ra pernah menceritakan :

“Sesungguhnya yang diturunkan mula-mula dari surat-surat pendek (Makiyah) berisi di dalamnya peringatan tentang surga dan neraka. Sampai ketika manusia telah teguh kepada Islam, barulah diturunkan tentang halal dan haram. Seandainya yang diturunkan mula-mula dari segala sesuatu adalah, “Jangan kamu minum khamr”, maka sungguh (orang-orang) akan berkata, “Kami tidak akan meninggalkan khamr selamanya.” Atau seandainya yang diturunkan mula-mula adalah, “Jangan kamu berzina”, sungguh (orang-orang) akan berkata, “Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya” (Riwayat Bukhari).

3. Dakwah harus dilakukan dengan pelajaran yang baik

Al Mauizhah al hasanah adalah pelajaran dan peringatan yang baik. Al Khalil berkata, “Al Mauizhah adalah memberi peringatan dengan kebajikan yang membuat hati senang”. Al Hikmah dan mauizhah hasanah disebut dalam kitab Adab Al Bahts wal Munazharah sebagai al burhan (bukti, dalil) dan al khithab (pidato). Allah Ta’ala menghubungkan kata al mauizhah dan al hasanah, yang dalam susunan seperti ini terdapat pengertian ada al mauizhah yang tidak baik, namun yang diperintahkan Allah adalah mauizhah yang baik.

Dengan pikiran jernih kita bisa memahami bahwa dakwah dengan mauizhah dari orang yang tidak mengambil pelajaran dengan apa yang diperingatkan itu, atau tidak melaksanakan sendiri apa yang diserukan itu, bukanlah termasuk mauizhah yang baik. Al Bayanuni menyebutkan aplikasi mauizhah hasanah sebagai nasihat dan peringatan, perkataan yang jelas dan lembut serta berita gembira dan ancaman.

4. Perdebatan harus dilakukan dengan tepat

Kadang dalam dakwah menuntut dilakukannya sebuah perdebatan. Debat atau jadal (jidal) sebagaimana disebutkan dalam ayat ke 125 surat An Nahl, dijelaskan oleh Dr. Muhammad Jamil Ghazi:

“Ayat tadi (QS. 16 : 125) membatasi metode dakwah dengan al hikmah dan al mauizhah al hasanah. Karena jika berdakwah dengan dalil-dalil yang meyakinkan, maka itulah al hikmah, dan jika dengan dalil-dalil zhanni maka itu al mauizhah al hasanah. Adapun jadal bukan termasuk dakwah, tetapi ia mempunyai maksud lain yang berbeda dari dakwah, yaitu meyakinkan dan mendiamkan lawan”.

“Karenanya ayat tadi tidak mengatakan ud’u ila sabili rabbika bil hikmah wal mauizhah al hasanah wal jadal al hasan, tetapi ayat tersebut melepaskan jadal dari bagian dakwah karena ingin memberi tahu bahwa ia bukan bagian langkah untuk mencapai dakwah. Ia hanya dimaksudkan untuk membela dakwah dan menolak syubhat, kepercayaan-kepercayaan bathil dan kepalsuan-kepalsuan yang timbul di sekitarnya”.

Dr. Ali Abdul Halim Mahmud memasukkan jadal dalam bagian dari metode dakwah, jika memang jadal itu diperlukan. Namun pelaksanaan jadal harus dengan jalan billati hiya ahsan, dengan cara yang lebih baik, dengan tujuan untuk ihqaqul haq wa izharuhu, membenarkan yang haq dan memenangkannya.

Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: http://www.pkstebet.org/2012/09/dakwah-dengan-hikmah.html