Nikmat Mampu Berbicara dan Menjelaskan

Oleh
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr

Speak Good or Remain Silent

Sesungguhnya kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-hambanya tak terhitung dan terhingga banyaknya. Dan termasuk salah satu nikmat agung yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah nikmat mampu berbicara. Dengan kemapuan tersebut seseorang bisa mengutarakan keinginannya, mampu menyampaikan perkataan yang benar dan mampu beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Orang yang tidak diberi nikmat mampu berbicara, jelas dia tidak akan mampu melakukan hal di atas. Dia hanya bisa mengutarakan sesuatu dan memahamkan orang dengan isyarat atau dengan cara menulis, jika dia mampu menulis. Allah Ta’ala berfirman.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَّجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوْلَاهُ أَيْنَمَا يُوَجِّههُّ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ ۖ هَلْ يَسْتَوِي هُوَ وَمَن يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ ۙ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan Allah membuat (pula) perumpamaan dua orang lelaki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban bagi penanggungnya, kemana saja dia suruh oleh penanggungnya itu dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan yang berada di atas jalan yang lurus?” [An-Nahl : 76]

Tentang tafsir ayat ini, ada yang mengatakan bahwasanya Allah memberikan permisalan perbandingan antara diriNya dengan berhala yang disembah. Adapula yang mengatakan bahwa Allah memberi permisalan antara orang kafir dan orang yang beriman. Imam Qurthubi menjelaskan dalam kitab Tafsirnya (IV/149), “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa penjelasan-penjelasan tersebut semuanya baik, karena telah mencakup”.

Permisalan di atas secara jelas menerangkan kekurangan seorang budak bisu yang tidak mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Pemiliknya pun tidak mampu mengambil manfaat kapan dia membutuhkannya. Allah Ta’ala berfirman.

فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنطِقُونَ

“Demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya apa yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan” [Adz-Dzariyat : 23]

Allah bersumpah dengan diriNya akan pastinya kedatangan hari kebangkitan dan pembalasan amal manusia, sebagaimana pastinya ucapan yang menjadi perwujudan dari orang yang berbicara. Pada ayat tersebut Allah memaparkan sebagian karuniaNya yang berupa ucapan,

Allah Ta’ala juga berfirman.

خَلَقَ الْإِنسَانَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ

“Dia menciptakan manusia, dan mengajarinya berbicara” [Ar-Rahman : 2-3]

Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan bahwa al-bayan (penjelasan) adalah berbicara. Jadi, Allah menyebutkan nikmat berbicara ini, karena dengan berbicara manusia bisa mengutarakan apa yang diinginkannya.

Allah Ta’ala berfirman.

أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ

“Bukannkah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir?” [Al-Balad : 8-9]

Dalam kitab Tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan, “Firman Allah : أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ (Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata), maksudnya dengan kedua mata tersebut dia mampu melihat. وَلِسَانًا (Dan lidah), yaitu dengan lidahnya dia mampu berbicara ; mampu mengungkapkan apa yang tersimpan dalam hatinya. وَشَفَتَيْنِ (Dan kedua bibirnya), yaitu dengan bibirnya dia dapat mengucapkan sebuah perkataan, atau memakan makanan ; juga sebagai penghias wajah dan mulutnya”.

Akan tetapi, kita tahu bahwa nikmat berbicara ini akan menjadi kenikmatan yang hakiki apabila digunakan untuk membicarakan hal-hal yang baik. Apabila digunakan untuk perkara yang jelek, maka hal itu justru akan menjadi musibah bagi pemiliknya. Dalam keadaan seperti itu, maka orang yang tidak diberi nikmat berbicara lebih baik keadaannya dibandingkan dengan orang yang menggunakan nikmat ini dalam perkara yang jelek.

Sumber: AlManhaj

Menjaga Lisan

Hadits Arba’in Nomor 29

“… Kemudian Rasulullah Shallalhu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Maukah aku beritahukan kepadamu tentang kunci semua ini?’ Saya (Mu’adz ra) berkata, ‘Mau, wahai Rasulullah’ Maka Rasulullah Shallalhu ‘alaihi wasallam memegang lidahnya, beliau bersabda, ‘Tahan ini!’ Saya (Mu’adz ra) berkata, ‘Wahai Nabi Allah, adakah kita terhitung berbuat dosa dikarenakan apa yang kita bicarakan?’ Maka Rasulullah Shallalhu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ibumu kehilangan dirimu wahai Mu’adz, tidakkah banyak manusia terjerumus mukanya di dalam neraka dikarenakan lidahnya’, Atau ‘Bukankah hidung manusia terjerembab ke dalam neraka dikarenakan jeratan-jeratan lidahnya?’” (HR At-Tirmidzi dan ia mengatakan hadits ini hasan shahih).

Pada bagian akhir hadits ke-29 dari kitab Arba’in An-Nawawiyyah di atas, Rasulullah Shallalhu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa milaku dzalika kuliihi, maksudnya, kunci dari semua urusan yang terkait dengan masuk surga adalah lisan atau mulut. Artinya, kalau seseorang bisa menjaga lisannya, dalam arti tidak mengucapkan kecuali yang baik, dan jika tidak menemukan kebaikan maka ia diam, serta mulutnya tidak mengonsumsi kecuali yang dihalalkan Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya ia akan memasuki surga Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebaliknya, jika seseorang tidak menjaga lisannya sehingga ia menggunakannya secara bebas dan untuk berbicara apa saja, juga untuk mengonsumsi apa saja, niscaya kebebasan lisan itu akan menjerumuskannya ke dalam neraka, na’udzu billah min dzalik.

Berkata baik atau diam

Dalam hadits lain Rasulullah Shallalhu ‘alaihi wasallam menjelaskan, di antara cara menjaga lisan adalah dengan cara berkata baik, atau diam. Rasulullah Shallalhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik, atau diam,” (Muttafaqun ‘alaih).

Dalam rangka mendorong umatnya agar mampu menjaga lisan dengan baik sehingga karenanya ia akan memasuki surga, Rasulullah Shallalhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dari Sahl bin Sa’d, dari Rasulullah Shallalhu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: ‘Siapa yang mau menjamin untukku bahwa ia akan menjaga organ antara dua rahang dan dua kakinya, maka aku jamin surga baginya’,” (HR Bukhari [6474]).

Akibat satu kata, bisa surga atau neraka

Kita harus senantiasa menjaga lisan. Sebab, satu kata yang meluncur darinya, bisa membawa ke surga atau neraka. Tercatat dalam hadits, “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Shallalhu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah subhanahu wa ta’ala ridha kepadanya, sang hamba sendiri sama sekali tidak memperhitungkannya, namun dengan satu kata itu, Allah subhanahu wa ta’ala naikkan derajatnya beberapa derajat, dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah murka, sang hamba sendiri tidak memperhitungkannya, namun gara-gara satu kata tersebut, sang hamba terperosok ke dalam neraka Jahannam’,” (Muttafaqun ‘alaih, lihat Bukhari [6477, 6478] dan Muslim [2988]).

Hati-hati, semua kosakata diawasi dan dicatat malaikat

Lisan harus dikontrol dengan baik. Sebab, semua yang keluar darinya, selalu ada pengawas yang mencatat. Allah berfirman, “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir,” (QS Qaaf [50]: 18).

Agar tak sering tergelincir, terutama kepada kebohongan, jangan membicarakan segala yang kita dengar

Rasulullah Shallalhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Shallalhu ‘alaihi wasallam, ‘Cukuplah kebohongan bagi seseorang jikalau ia menceritakan semua yang ia dengar’,” (HR Muslim [5]).

Jangan membuat forum-forum untuk membicarakan keburukan orang/kelompok/pihak lain

Salah satu pintu kebinasaan yang diakibatkan oleh lisan adalah pembuatan forum-forumNajwa. Rasulullah Shallalhu ‘alaihi wasallam mendefinisikan najwa sebagaiberikut: “Dari Abdullah bin Umar ra bahwasanya Rasulullah Shallalhu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Jika manusia berkumpul tiga orang, janganlah yang berdua berbicara tanpa melibatkan yang ke tiga)’,” (Muttafaqun ‘alaih, lihat Bukhari [6288] dan Muslim [2183].

Jadi, najwa adalah kumpulan yang terdiri tiga orang, di mana yang dua berbicara tanpa melibatkan orang ketiga. Atau, kumpulan empat orang di mana dua orang di antaranya berbicara tanpa melibatkan dua orang lainnya, atau yang tiga berbicara tanpa melibatkan yang keempat, dan begitu seterusnya.

Termasuk dalam hal ini adalah pembicaraan sekelompok anggota suatu organisasi atau masyarakat tanpa melibatkan para pengambil keputusan dari organisasi atau masyarakat tersebut.

Najwa seperti ini tidak memiliki kebaikan sama sekali kecuali jika dalam rangka tiga hal, sebagaimana dijelaskan Allah subhanahu wa ta’ala dalam QS An-Nisa [4]: 114, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.”

Selain yang terungkap di atas, masih banyak lagi petunjuk Al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan kita menjaga lisan. Karenanya tak heran, petunjuk Rasulullah dalam penutup hadits ke-29 ini menerangkan lisan sebagai kunci bagi manusia yang ingin memasuki surga-Nya.

Mengapa Rasul Menyuruh Kita Membersihkan Rambut Daerah Intim

“Sepuluh perkara yang merupakan fithrah: merapikan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, memasukkan air ke hidung (ketika berwudhu), memotong kuku, membasuh ruas jari-jemari (ketika berwudhu), mencabut rambut ketiak, mencukur rambut kemaluan, dan istinja`(membersihkan kemaluan setelah buang air”. Salah seorang rawi hadits ini berkata, “Saya lupa yang kesepuluh, (tapi saya menduga bahwa yang kesepuluh adalah berkumur-kumur ketika berwudhu),” (HR. Muslim).

Apakah rambut yang tumbuh di sekitar daerah intim merupakan sesuatu yang penting dalam hubungan suami istri? Dari hadits di atas kita tahu ternyata mencukur rambut kemaluan adalah salah satu dari menjaga kebersihan diri, hadits ini hadir tentunya bukan tanpa alasan.

Kenapa harus mencukur rambut kemaluan? Menurut catatan medis sendiri, mencukur rambut kemaluan itu mutlak bagi siapapun karena akan dapat mempersempit pertumbuhan bakteri pada sekitar kemaluan. Selain itu rambut kemaluan yang pendek membuat kulit kemaluan jadi lebih sensitif saat menerima rangsangan dan sentuhan dari pasangan sah dan juga mengurangi bau tidak sedap.

Rambut kemaluan memiliki dua fungsi yaitu secara biologis dan sosial. Secara biologis, rambut-rambut yang tersembunyi pada perempuan berfungsi melindungi jaringan vulva yang lembut, dan mempertahankan suhu organ reproduksi tetap normal. Secara sosial, rambut kemaluan sering dipandang sebagai simbol kewanitaan yaitu seorang wanita dewasa memiliki rambut kemaluan yang membedakannya dari gadis kecil biasa.

Berapa lama dibiarkan tumbuh?

Secara umum pertumbuhan rambut kemaluan akan terhenti setelah 2 bulan, jadi rambut yang sudah panjang tidak akan bertambah panjang walaupun tidak dicukur. Jika pada rambut kemaluan yang panjang tersebut tidak terjaga kebersihannya maka akan menimbulkan pertumbuhan bakteri yang sangat mengganggu. Jadi untuk alasan kesehatan dan kebersihan lebih baik bila dibersihkan secara berkala. Tapi akan sangat sulit jika rambut kemaluan kita panjang karena meskipun sudah dibersihkan dengan sabun khusus organ intim ditakutkan masih ada bakteri membandel yang nempel di setiap helai rambut kemaluan.

Maka dari itu lebih baik jika kita mencukurnya. Cara mencukur rambut kemaluan bisa dengan alat cukur, mencabut, menggunting, laser, obat penghilang rambut, wax, atau teknik elektrolisa.  Yang harus kita ingat, dalam Islam kemaluan itu merupakan salah satu aurat yang mesti dijaga dari orang-orang yang bukan muhrimnya jadi dalam mencukur rambut kemaluan hendaknya dilakukan oleh diri sendiri atau oleh suami atau istri.

Istilah dari mencukur rambut kemaluan adalah istihdad yang disebutkan dengan lafadz: حَلْقُ الْعَانَةِ (mencukur ‘anah). Pengertian ‘anah adalah rambut yang tumbuh di atas kemaluan dan sekitarnya.

Tujuan dari istihdad ini disyariatkan bagi wanita sebagaimana ditunjukkan dalam hadits “Pelan-pelanlah, jangan tergesa-gesa (untuk masuk ke rumah kalian) hingga kalian masuk di waktu malam –yakni waktu Isya’– agar para istri yang ditinggalkan sempat menyisir rambutnya yang acak-acakan/kusut dan sempat beristihdad (mencukur rambut kemaluan)” (HR. Al-Bukhari no. 5245 dan Muslim). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata kepada Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma: “Apabila engkau telah masuk ke negerimu (sepulang dari bepergian/safar) maka janganlah engkau masuk menemui istrimu hingga ia sempat beristihdad dan menyisir rambutnya yang acak-acakan/kusut,” (HR. Al-Bukhari no. 5246).

Cara mencukur rambut kemaluan

Lebih baik rambut kemaluan tersebut dicukur sampai habis tanpa menyisakannya. Dan dibolehkan mengguntingnya dengan alat gunting, dicabut, atau bisa juga dihilangkan dengan obat perontok rambut, karena yang menjadi tujuan adalah diperolehnya kebersihan. (Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib 1/239, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 1/342, Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, fashl Hukmul Istihdad).

Al-Imam Ahmad rahimahullahu ketika ditanya tentang boleh tidaknya menggunakan gunting untuk menghilangkan rambut kemaluan, beliau menjawab, “Aku berharap hal itu dibolehkan.” Namun ketika ditanya apakah boleh mencabutnya, beliau balik bertanya, “Apakah ada orang yang kuat menanggung sakitnya?” Abu Bakar ibnul ‘Arabi rahimahullahu berkata, “Rambut kemaluan ini merupakan rambut yang lebih utama untuk dihilangkan karena tebal, banyak dan kotoran bisa melekat padanya. Beda halnya dengan rambut ketiak.”

Waktu untuk melakukan istihdad adalah sesuai kebutuhan dengan melihat panjang pendeknya rambut yang ada di kemaluan tersebut. Kalau sudah panjang tentunya harus segera dipotong/dicukur. (Al-Minhaj 3/140, Fathul Bari 10/422, Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, fashl Hukmul Istihdad).

Rambut yang lain

Adapun rambut yang tumbuh di sekitar dubur, terjadi perselisihan pendapat tentang boleh tidaknya mencukurnya. Ibnul ‘Arabi rahimahullahu mengatakan bahwa tidak disyariatkan mencukurnya, demikian pula yang dikatakan Al-Fakihi dalam Syarhul ‘Umdah. Namun tidak ada dalil yang menjadi sandaran bagi mereka yang melarang mencukur rambut yang tumbuh di dubur ini. Adapun Abu Syamah berpendapat, “Disunnahkan menghilangkan rambut dari qubul dan dubur. Bahkan menghilangkan rambut dari dubur lebih utama karena dikhawatirkan di rambut tersebut ada sesuatu dari kotoran yang menempel, sehingga tidak dapat dihilangkan oleh orang yang beristinja (cebok) kecuali dengan air dan tidak dapat dihilangkan dengan istijmar (bersuci dari najis dengan menggunakan batu).” 

Meskipun diatas yang dibahas lebih banyak tentang manfaat mencukur rambut kemaluan bagi wanita, bukan berarti pria boleh memanjangkan rambut kemaluannya karena dalam Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib 1/239, jumhur ulama menyatakan yang dicukur adalah rambut yang tumbuh di sekitar zakar laki-laki dan kemaluan wanita.

Sumber: Rumah Keluarga Indonesia