Mengejar Dunia Seperti Minum Air Laut

Belakangan ini kita sering mendengar banyak sekali motivator – motivator yang mempunyai tujuan agar tiap orang itu berada dalam kondisi bebas financial. Artinya, dengan bebas financial orang bisa membeli apa saja yang mereka inginkan dan diharapkan kebahagiaan bisa terwujud dan setelah bebas financial kita bisa bebas beribadah tanpa repot-repot untuk bekerja lagi. Pertanyaannya, apa iya seperti itu kondisinya?

Jawabannya ada benarnya juga, namun kondisi di lapangan justru sebaliknya, ada yang berusaha mencapai kebebasan financial dengan harapan bisa bersantai-santai kemudian dan beribadah dengan leluasa, tapi untuk mengejar status tersebut justru membuat aktivitas Ibadan dan dakwahnya menjadi terganggu. Kalau kondisinya demikian sebenarnya apa yang mereka cari? Padahal tiap orang itu berbeda-beda symbol kesuksesannya. Dan manusia sudah pasti tidak akan puas dengan dunia sampai mulutnya di sumpel tanah, alias MATI.

Cobalah renungkan, ketika dulu kita belum punya handphone dan kemudian berhasil memilikinya, setahun kemudian kita berhasrat memiliki handphone jenis terbaru. Saat belum punya motor dan ingin sekali punya, kemudian Allah mengabulkan, tiba-tiba beberapa tahun kemudian kita sangat ingin memiliki mobil. Dan saat punya mobil kemudian lihat mobil tetangga lebih bagus dan lebih baru, lalu kita berhasrat memiliki yang lebih baru juga, begitulah seterusnya hati manusia tidak akan puas dengan dunia. Mobil atau motor yang sudah ada tidak puas catnya begitu-begitu saja kemudian di hias – hias dengan stiker agar bagus dan tidak pernah berhenti menghiasi perhiasan – perhiasan dunia.

Tidak salah memang mengejar dunia, kemudian kekayaan yang kita raih kita gunakan untuk kebaikan. Karena memang sebaik-baiknya harta ialah ketika dipegang orang yang shalih, tapi yang harus diperhatikan ialah jangan sampai ketika mengejar dunia tersebut jangan sampai membuat terlena sehingga melupakan aktivitas ibadah yang lebih esensial pentingnya dibandingkan mengejar status bebas financial. Karena, ada pepatah seorang sahabat yang berkata “jika kamu bersyukur dan puas dengan rezekimu, kamu akan merasa seperti seorang raja di dunia” jadi ketika ada orang yang sudah punya rumah mewah, mobil mewah dll, namun masih merasa kekurangan dan belum puas, maka ia termasuk orang yang MISKIN, karena ia selalu merasa kekurangan.

Semoga bermanfaat.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/09/22787/ingat-kawan-mengejar-dunia-seperti-minum-air-laut/#ixzz27SpYtK8w

Berlomba-Lomba di Shaf Pertama

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Seringkali kita meremehkan meraih kebaikan. Bahkan merasa tidak mengapa jika dikalahkan oleh saudara kita. Padahal dalam berbagai ayat kita diperintahkan untuk bersegera melakukan kebaikan dan ketaatan serta berlomba-lomba di dalamnya. Begitu pula dalam berbagai hadits kita diperintahkan untuk menjadi terdepan.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا

“Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al Ma’idah: 48)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Lihat pula bagaimanakah perkataan salafush sholeh yang memotivasi kita bisa menjadi number one dalam kebaikan dan harusnya sedih jika memang dikalahkan oleh yang lain.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,  “Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.”

Wahib bin Al Warid mengatakan, “Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridho Allah, lakukanlah.”

Sebagian salaf lagi mengatakan, “Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.”[1]

Yang Bisa Dipraktekkan

Yang bisa kita praktekkan secara sederhana setiap harinya adalah terdepan dalam shaf pertama dalam shalat Jama’ah. Ini khusus bagi pria.

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Shaf yang terbaik bagi laki-laki adalah shaf pertama, yang paling jelek adalah shaf terakhir. Sedangkan shaf yang terbaik bagi wanita adalah shaf terakhir, yang paling jelek adalah shaf pertama (karena semakin dekat dengan kaum laki-laki, pen)”.[2]

Syaikh ‘Abdul Karim Khudair mengatakan, “Maksud hadits ini adalah bahwa shaf laki-laki yang utama adalah shaf yang pertama, kemudian baru shaf yang berikutnya hingga shaf yang terakhir. Shaf yang paling jelek adalah shaf yang sedikit ganjarannya karena semakin jauh dari imam. Shaf terakhir ini diperoleh karena seringkali telat dalam menghadiri shalat jama’ah dan selalu mengakhirkan panggilan shalat berjama’ah. Sedangkan yang berada di shaf pertama itulah yang lebih bersegera dalam memenuhi panggilan shalat jama’ah. Jika seseorang melakukan shalat berjama’ah dan lebih dekat dengan imam, tentu itu akan lebih mempengaruhi shalatnya. Apalagi jika dalam shalat jahriyah (yang dikeraskan bacaannya). Apalagi pula dalam shalat shubuh. Dalam shalat tersebut lebih akan disimak bacaannya tentunya.”

Syaikh hafizhohullah selanjutnya menjelaskan, “Dalam hadits tersebut dikatakan bahwa sebaik-baik shaf bagi pria adalah shaf pertama. Namun seringkali kita lihat sebagian orang datang melaksanakan shalat berjama’ah, namun malah duduk-duduk di shaf belakang. Sampai ketika iqomah dikumandangkan, dia hanya mendapati shaf keempat atau kelima. Padahal sebenarnya ia mampu berada di shaf pertama.”[3]

Dalam masalah dunia, kita bisa mendahulukan orang lain, itu memang yang lebih baik. Karena dalam masalah dunia, kita harus memperhatikan orang di bawah kita agar kita bise mensyukuri nikmat Allah.

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al kholq], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.”[4]

Namun dalam masalah akhirat, jangan sampai seperti itu. Dalam hadits disebutkan,

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا

“Seandainya setiap orang tahu keutamaan adzan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi.”[5]

Jika seseorang dalam perkara sederhana seperti ini sudah berlomba-lomba menjadi yang terdepan, maka dengan pembelajaran seperti ini ia tentu tidak mau kalah dalam masalah akhirat lainnya.

Semoga dengan risalah ringkas ini membuat kita semakin semangat dalam ketaatan dan berlomba-lomba menjadi yang terdepan. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Riyadh-KSA, 7 Rabi’uts Tsani 1432 H (12/03/2011)

http://www.rumaysho.com

[1] Latho-if Ma’arif, hal. 268

[2] HR. Muslim no. 440.

[3] Dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdul Karim Khudair dalam Syarh Al Muharror, Kitab Ash Sholah (37). Lihat pada link: http://www.khudheir.com/text/5470

[4] HR. Bukhari no. 6490 dan Muslim no. 2963

[5] HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437