Keluarga Adalah Citra Bagi Dakwah

3 Generasi Dakwah

Tatkala Rasulullah Saw ditemui Jibril di gua Hira’ -saat turun wahyu pertama kali- persitiwa itu telah mengguncangkan hati dan pikiran beliau. Betapa tidak, bukankah peristiwa bertemu malaikat itu sesuatu yang tak lazim terjadi? Yang beliau lakukan kemudian adalah segera pulang ke rumah, bertemu isterinya! Khadijah, radliyallahu ‘anha, benar-benar tempat pulang yang baik bagi suaminya. Perhatikanlah betapa kelembutan dan arifnya Khadijah, saat Muhammad Saw mengatakan kepadanya ,”Selimuti aku…selimuti aku…” dengan kekhawatiran telah terjadi sesuatu yang tidak beres pada diri beliau, Khadijah pun lembut menjawab:

“Tidak, bergembiralah, demi Allah! Allah sama sekali tak akan membuat kamu kecewa. Engkau seorang yang suka menyambung tali keluarga, selalu menolong orang yang susah, menghormati tamu dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran!”

Tenanglah hati beliau dengan keteguhan hati dan kesabaran isterinya. Perhatikan pula penggal kisah perjanjian Hudaibiyah, antara kaum muslimin dan orang-orang kafir Quraisy. Seusai dilaksanakan perjanjian tersebut, hati kaum muslimin masih gerah, disebabkan tingkah laku Suhail bin Amr -wakil pihak Quraisy- yang dianggap telah melecehkan kaum muslimin. Tatkala Rasulullah Saw memerin­tahkan kepada kaum muslimin untuk menanggalkan pakaian ihram, mencukur rambut dan menyembelih hewan korban, tak satupun yang berangkat. Bahkan perintah itu telah beliau ulang hingga tiga kali. Mereka tak juga berangkat menunaikan perintah.

Apa yang beliau lakukan kemudian? Ternyata beliau masuk ke tenda, menjumpai Ummu Salamah ra, isteri beliau yang menyertai dalam perjalanan. Beliau ceritakan hal itu kepada sang isteri. Subhanallah, ternyata ada sesuatu yang terlupa oleh beliau, dan telah diingatkan oleh Ummu Salamah.

Bergegas beliau menemui kaum muslimin, sebagaimana saran Ummu Salamah, kemudian beliau melepas pakaian ihram, mencukur rambut, dan menyembelih hewan korban, tanpa mengulang perintah. Demi dilihatnya sang Nabi telah mencontohkan, tanpa dikomando kaum muslimin melakukan hal serupa.

Demikianlah salah satu episode dalam keluarga dakwah. Suami dan isteri akan saling memberikan ketenangan dengan mawaddah dan rahmah.

Keluarga, An Nazhrah al Ijabiyah fid Da’wah

Suatu ketika, Umar ra hendak berbicara di depan ummatnya. Sebelum ia berangkat, dikumpulkan sanak familinya, lalu ia berka­ta:

“Ketahuilah, aku akan mengajak manusia kepada begini dan begitu. Aku bersumpah dengan nama Allah yang Maha Agung bahwa aku tak mau sekali-kali melihat ada seorang di antara kalian melaku­kan apa yang aku larang terhadap manusia, atau meninggalkan apa yang aku perintahkan kepada mereka. Siapa yang berani melanggar ketentuan ini, niscaya aku akan menyiksanya dengan siksaan yang pedih”.

Kita juga menyaksikan, orang-orang yang mula pertama beriman adalah dari lingkungan keluarga Rasulullah Saw sendiri. Setelah Khadijah ra beriman, disusul kemudian Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah ra. Baru setelah itu, beliau mengajak orang di luar keluarganya.

Keluarga adalah citra bagi dakwah Islam. Membangun masyarakat, apalagi negara dan dunia, tak akan berhasil tanpa dimulai dengan pembangunan dan pembinaan keluarga. Ia memang citra yang membuat ummat menyambut atau menolak dakwah yang disampaikan kepada mereka.

Keluarga, Basis Pencetak Generasi Khairu Ummah

Ummat akan berpredikat Khairu Ummah apabila memenuhi tiga syarat. Pertama, ta’muruuna bil ma’ruf, mereka memerintahkan untuk berbuat kebaikan. Kedua, tanhauna ’anil munkar, mereka mencegah dari perbuatan munkar, dan ketiga tu’minuuna billaah, mereka beriman kepada Allah. Namun darimanakah datangnya generasi yang mampu meraih predikat itu, jika tidak dimulai dari persiapan dalam keluarga?

Bukankah Luqman telah memberikan teladan, tatkala ia membina anaknya :

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya : Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mem­persekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar” (Luqman(31):13).

“Hai anakku, dirikanlah shalat, dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bershabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesung­guhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (Luqman(31):18).

Keluarga Luqman, telah mencontohkan persiapan generasi khairu ummah. Generasi yang menegakkan amar ma’ruf, nahi munkar, sedang mereka beriman kepada Allah, tanpa melakukan kemusyrikan.

Ummat akan baik, jika dimulai dari keluarga yang baik. Keluarga akan Islami, apabila setiap individu dalam keluarga itu memahami dan melaksanakan tugas dan kewajibannya masing-masing, sesuai aturan Islam. Oleh karenanya, keluarga sebagai lembaga terkecil dalam struktur ummat, memiliki peran yang amat strategis dalam merekayasa peradaban masa depan. Peradaban yang menjanjikan kebaikan dalam segala aspeknya, karena dikendalikan oleh generasi khairu ummah.

Luqman adalah tipologi kepala keluarga yang sadar akan beban masa depan. Ia telah memulai, bahkan diabadikan dalam Al Quran sebagai percontohan. Keluarga, memang basis dakwah. Keluarga adalah basis pencetak generasi khairu ummah.

Wallahu a’lam.

Oleh: Cahyadi Takariawan

Keterpaduan Langkah Dakwah | Taujih Ustadz Hilmi Aminuddin

SABTU, 02 MARET 2013

Keterpaduan­ Langkah Dakwah | Taujih Ustadz Hilmi Aminuddin

*Oleh:­ Ust. Hilmi Aminuddin*

Target akhir dakwah kita adalah “nasyrul hidayah” (menyebarkan petunjuk) dan “li i’laai kalimatillah”(m­eninggikan kalimah Allah), hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu­ kulluhu li-Llah (supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah). Jangan lupakan target akhir ini.

“*Amal khoiri*” yang pendekatannya kesejahteraan, jangan dianggap sebagai ghayah (target akhir), itu sasaran antara saja. Memang dia suatu anjuran dari Allah, tapi dia sasaran antara dari segi dakwah, diharapkan melalui ihsan kita menghasilkan penyikapan dan sambutan yang khoir. “Hal jazaul ihsan illal ihsan”, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. Tapi ihsan kita, operasi mewujudkan kesejahteraan itu jangan dianggap tujuan akhir. Negara-negara Eropa itu adalah Negara yang sejahtera hidupnya. Tapi 50% penduduknya atheis.

Bagi kita, jadi camat, bupati, walikota, gubernur atau presiden, itu sasaran antara. Akhirnya “hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu­ kulluhu li-Llah” (supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah). Wa kalimatullah hiyal ulya (dan kalimat Allah itulah yang tinggi).
Jadi, “*amal tsaqafi*”, orang jadi bertsaqafah; “*amal khairi*”, orang jadi sejahtera; itu hanyalah sasaran-sasaran­ antara kita. Sebab kalau orientasi masyarakat madani itu hanya terdidik, dan sejahtera seperti di Eropa, banyak yang mulhid, atheis walaupun terdidik dan sejahtera. Walaupun bukan atheis terorganisir seperti komunis, style masyarakat sebagai individu itu atheis. Bahkan memandang keagamaan itu merupakan bagian dari budaya.

Di Jepang juga masyarakatnya sangat sejahtera. Tapi bagi mereka agama itu kultur yang terserah selera, boleh berganti kapan saja. Orang Jepang saat lahir umumnya disambut dengan upacara-upacara­ Budha. Ketika nanti menikah dirayakan dengan upacara Kristen dan ketika meninggal dengan upacara Sinto. Kata ikhwah yang pernah bermukim di Jepang, pernah ada sensus keagamaan, ternyata pemeluk agama di Jepang itu tiga kali lipat dari jumlah penduduk. Jadi mereka sebenarnya sejahtera dan terdidik. Secara fisik, materi, mereka terlihat bahagia. Tapi yabqa ala dhalalah (tetap dalam kesesatan).

Nah kita sebagai partai dakwah tidak begitu. Maksud saya, kalau kita sudah bisa mentau’iyah (menyadarkan), menjadi terbuka, bebas, demokratis, mentatsqif, menjadi terdidik, atau menyejahterakan­ sekalipun, perjalanan kita masih tetap jauh. Sebab sesudah itu, bagaimana mereka bisa kita konsolidasikan,­ bisa kita koordinasikan, kita mobilisasikan, litakuuna kalimatulladzii­na kafaru sulfa wa kalimatullahi hiyal ‘ulya. Ini penting untuk selalu diingatkan dan dicamkan. Apalagi di masa-masa musyarokah (partisipasi politik) ini.

Jangan merasa sukses menjadi pemimpin Pemda itu ukurannya sekedar telah membangun sekolah sekian, madrasah sekian, kesejahteraan, pertanian subur; sementara hidayah tercecer. Makanya keterpaduan langkah-langkah­ yang sifatnya “tarfih “(kesejahteraan­), atau”tatsqif” (mencerdaskan bangsa) harus sejajar dengan upaya-upaya mendekatkan orang pada hidayah Allah.

Harus begitu.

Ini saya ingatkan karena ketika kita di masyarakat dituntut di sektor kesejahteraan, di sektor kebijakan, di sektor pendidikan, di sektor kesehatan; maka harus secara menyatu terpadu dengan “nasyrul hidayah” (menyebarkan petunjuk Islam), “nayrul fikrah” (menyebarkan gagasan Islam), “wa nasyrul harakah”(penyeb­aran gerakan dakwah). Agar mereka akhirnya bergerak bersama-sama li I’lai kalimatillah.
Disalin dari: FP Kita Memilih dan Memenangkan PKS

Syarat Kemenangan Dakwah

 Syarat Kemenangan Dakwah

Kemenangan Islam adalah janji pasti dari Sang Maha Suci. Kemenangan itu akan diberikan ketika umat ini telah siap meraihnya. Kemenangan itu bukanlah dongeng, bukan pula janji palsu. Karena janjiNya adalah kepastian yang tidak ada satupun makhuk yang bisa menolaknya. Bahkan, ketika kuasaNya telah berlaku, meskipun seluruh makhluk bersatu padu untuk menolaknya, niscaya apa yang mereka lakukan itu akan sia-sia.

Lantas, mungkinkah kemenangan itu ‘digratiskan’ begitu saja? Sekali-kali tidak! Harus ada upaya pasti dari para pengemban dakwah Islam demi terwujudnya janji Allah itu, kemenangan Islam. Ada beberapa sebab yang bisa kita lakukan sehingga janji Allah itu segera terwujud. Sebab-sebab itu haruslah kita sertakan dalam tiap jenak perjuangan dakwah.

Pertama, Niat yang Ikhlas. Dalam berjuang demi tegaknya Islam, yang pertama kali harus dilakukan adalah meluruskan niat. Niat hendaknya hanya untuk Allah dan RasulNya. Bukan untuk dunia atau wanita-wanita yang diingini, pun dengan aneka macam harta dan atribut duniawi lainnya.

Niat ikhlas itu, diantaranya adalah untuk menolong Agama Allah. Karena siapa yang menolong AgamaNya, pastilah akan ditolongNya. Firman Allah, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” Maka, perjuangan yang kita lakukan, dakwah yang selalu menjadi nafas kehidupan kita, mestilah diniati ikhlas, untuk menolong agama Allah. Agar ia tegak. Setegak-tegaknya. Bukan untuk tujuan selainnya.

Kedua, Taat kepada pemimpin. Keberadaan pemimpin dalam sebuah komunitas yang memperjuangkan Islam adalah niscaya. Pemimpin ini hendaknya adalah orang yang faqih, takut kepada Allah, ikhlas dan mengetahui strategi yang jitu dalam menyampaikan ajaran-ajaran Allah. Ia bukanlah orang yang haus kepada dunia, atau hanya mementingkan keuntungan kelompoknya. Pemimpin ini adalah pemimpin yang orientasinya akhirat.

Pemimpin yang sesuai kriteria itu, bukanlah satu-satunya syarat. Karena pemimpin, sehebat apapun akanlah sia-sia jika tidak ditaati oleh yang dipimpinnya. Maka, ketaatan yang benar kepada pemimpin yang tepat adalah niscaya demi menangnya Dakwah Islam. Ketaatan tersebut pastilah mendatangkan pertolongan Allah, sehingga dakwah Islam benar-benar mencapai puncaknya. Dalam surat Al Anfal ayat 46, Allah berfirman, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” Dari ayat tersebut kita dapati sebuah kesimpulan bahwa ketaatan adalah keniscayaan bagi sebuah kemenangan.

Dalam kaitannya dengan taat, rujukannya tentulah Al Qur’an dan Sunnah. Sehingga ketaatan yang bersumber pada selain keduanya adalah bathil. Ketaatan di jalan dakwah, hanyalah untuk Allah dan RasulNya. Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, kepada siapapun. Meskipun kepada kedua orang tua atau orang-orang yang kita cintai sekalipun. Terlebih lagi kepada pemimpin-pemimpin yang tidak sesuai syari’at. Maka, dalam sebuah perjuangan harus ada kontrol dari prajurit  kepada pemimpin. Sehingga ketika pemimpin menyimpang dari garis perjuangan, para prajurit  bisa langsung mengingatkan.

Ketiga, Sabar dan Bersiap siaga. Jangan maknai sabar dengan berdiam diri. Sabar maknanya menahan sembari terus berupaya. Menahan dalam makna tetap bergerak seperti apa yang diinstruksikan pemimpin, meski kadang tidak sesuai dengan keinginan dan pendapat diri. Bersamaan dengan sabar, persiapan tentunya harus senantiasa dilakukan. Persiapan dalam semua maknanya. Baik fisik, ruhani maupun finansial. Karena Perjuangan dakwah  adalah kontribusi dari setiap aspek yang kita miliki. Maka kita harus siap ketika dakwah meminta nyawa kita untuk melawan musuh-musuh islam sebagaimana yang dilakukan oleh saudara kita di Palestina dan negeri negeri muslim terjajah lainnya.

Terkait dengan sabar dan bersiap siaga, Allah berkali-kali mengingatkan kita dalam Kitab SuciNya, “Jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” (Ali Imran : 125). Dalam ayat lain disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”(Ali Imran : 200). Ayat ini merupakan jaminan dari Allah. Bahwa ketika para pejuang dakwah sennatiasa bersabar dan bersiap siaga, maka Allah akan menurunkan pertolonganNya. Pertolongan tersebut bisa berupa diturunkannya pasukan malaikat dan keberuntungan bagi para pejuang. Ini, adalah janji Allah yang tidak mungkin diingkari. Maka, ketika sampai sekarang pertolongan Allah belum nampak terbitnya, bisa jadi kesabaran kita masih sangat minim, persiapan kita juga seadanya.

Senada dengan ayat dia atas, Allah kembali menegaskan janjiNya ketika kita telah menguatkan kesabaran dalam berdakwah. Firman Allah dalam surat Al Anfal ayat 66, “Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” Hal ini sebagaimana terjadi dalam perang badar dan peperangan-peperangan kaum muslimin melawan kafirin lainnya. Ketika kaum muslimin bersabar, maka Allah pasti menolong mereka. Begitupun sebaliknya.

Ke-empat, Tsabat (Berteguh Hati). Berteguh hati bisa dimaknai sebagai membulatkan tekad. Menyuburkan niat yang telah diikrarkan di awal dakwah. Ia harus senantiasa dilakukan agar dakwah tidak kehilangan orientasinya. Langkah ini, mirip dengan pupuk bagi sebuah tanaman. Berteguh hati diperlukan agar tanaman niat itu makin subur sehingga menemukan momentum kemenangannya.

Dalam hal ini, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” Ayat 45 surat Al Anfal tersebut merupakan sebuah kaidah perjuangan ketika kita telah memasuki gelanggang perjuangan. Karena ketka itu, kita tidak bisa mundur lagi. Mundur berarti mati atau kalah. Maka, maju adalah keharusan. Dan bisa tidaknya maju sangatlah ditentukan oleh adanya keteguhan hati para pejuang dakwah.

Kelima, Tawakkal kepada Allah. Tawakkal bermakna menyerahkan hasil kepada Allah setelah kita berdarah-darah dalam berjuang. Ia bukan pasif, melainkan sikap aktif seorang pejuang dakwah dalam setiap tindakan. Maka, tawakkal yang benar dilakukan setelah berusaha. Tawakkal merupakan kesadaran tertinggi akan ke-Maha Kuasa-an Allah. Karena sehebat apapun kita, secanggih apapun strategi dakwah yang kita jalankan, pastilah sangat tidak mungkin mengungguli ke-Maha Kuasa-an Allah. Apa yang kita lakukan hanyalah sarana untuk menyambut kemenangan itu. Sedangkan penentu kemenangan, adalah hak prerogatif Allah.

Dalam surat Al Maidah ayat 23 disebutkan, “ Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” Ayat ini, maknanya , “ Jika kamu beriman maka bertawakallah dan jika kamu tidak bertawakkal, maka pertanyakan keimananmu.” Tawakkal setelah berusaha, adalah jaminan kemenangan dari Allah. Karena tawakkal berarti percaya sepenuhnya akan keMaha Kuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’alaa.

Keenam, Hindari perselisihan. Kelima kiat di atas merupakan kiat yang mesti dilakukan oleh masing-masing prajurit dalam dakwah. Ia sangat tergantung pada letak kematangan setiap personil. Setelah tiap individu sudah matang, maka ada yang mesti dilakukan terkait hubungan dengan sesama prajurit. Hal yang mesti dilakukan adalah menghindari berbantah-bantahan antara mereka. Firman Allah dalam surat Al Anfal ayat 45, “ Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan

janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Berbantah-bantahan dalam ayat ini, disinyalir sebagai salah satu sebab gagalnya dakwah. Ia merupakan wujud masih adanya egoisme dalam diri seseorang. Sangatlah mustahil diperoleh kemenangan ketika masing-masing prajurit masih saja mementingkan pendapat sendiri di atas pendapat jama’ah. Egoisme inilah yang memungkinkan pasukan terpecah belah. Maka, sangatlah mustahil kemengan itu datang ketika pasukan yang maju ke medan laga tidak bersatu, sementara musuh yag dihadapi sangat solid.

Ketujuh, Doa dan dzikir. Ini adalah langkah terakhir. Setelah langkah-langkah sebelumnya  yang melelahkan itu, maka terakhir adalah memasrahkan kepada Allah atas setiap upaya kita. Kepasrahan itu berbentuk doa dan dzikir.

Doa adalah senjata kaum mukminin. Doa merupakan pangkal dari ibadah. Doa, adalah bentuk kebutuhan seseorang kepada Penciptanya. Doa adalah sebuah bentuk ketersambungan antara hamba dengan Robbnya. Doa, adalah jaminan pengabulan dari Allah jika yang meminta adalah hambaNya

.Doa dalam ‘peperangan’ dakwah bisa bermacam ragamnya. Sebagai contoh, kita bisa mendapatinya dalam surat Al Baqoroh ayat 250, “Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa:

“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” Doa ini adalah doa terbaik yang Allah ajarkan.

Dalam doa tersebut, tentara Thalut tidak meminta agar diberi kemenangan secera langsung. Melainkan yang mereka minta adalah kesabaran dan keteguhan hati serta minta tolong. Ini adalah bentuk ketidakberdayaan hamba kepada Penciptanya. Maka, kita dapati tentara Thalut berhasil memenangkan peperangan memenangkan Jalut. Dalam kasus ini, Allah mengganjar doa mereka dengan kemenangan yang gemilang.

Dalam kasus lain, kita mendapati doa yang sama. Doa ini terdapat dalam surat Ali Imran ayat 147, “Tidak ada doa mereka selain ucapan:

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” Ini adalah doa yang selalu dipanjatkan oleh prajurit dakwah yang berperang bersama nabi mereka dalam setiap peperangan.

Redaksi doa ini sangatlah unik, karena yang diminta adalah ampunan dari Allah atas dosa yang telah dilakukan. Ini adalah alasan yang sangat tepat, karena sejatinya kemenangan dakwah diberikan lantaran ketaqwaan para pengemban dakwah. Dan, kekalahan dakwah, sebab utamanya dalah dosa yang selama ini menumpuk dan tidak di-istighfari. Maka, sebaiknya kita berkaca diri. Karena bisa jadi, belum menangnya dakwah bersebab dosa- dosa kita sehingga Allah belum mewujudkan janjiNya. Mari Istighfari dosa-dosa kita, agar janjiNya segera terwujud. Astaghfirullahal ‘Adhiim.

Maka, benarlah apa yang diwasiatkan oleh Umar bin Khattab. Setiap kali berangkat ke medan pertempuran, pesan yang disampaikan oleh beliau adalah, “ Jangan sekali-kali berbuat maksiat. Sekecil appaun. Karena dosa yang kita lakukan akan menghambat datangnya pertolongan Allah.” Mari berdoa agar Allah mengampuni kita dari dosa yang telah tercatat. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, yang sengaja atau tidak, yang besar maupun yang kecil. Semoga Allah kabulkan doa-doa kita. Amiin

Terakhir, bahwa kemenangan dakwah itu niscaya. Ia adalah janji Allah yang tidak mungkin diingkari. Maha benarlah firmanNya, “ Pertolongan Allah dan kemenangan itu dekat.” Ya. Kemenangan dan pertolongan Allah itu dekat. Sedekat upaya kita untuk menyambutnya. Maka, kita akan tersenyum ketika janjiNya benar-benar terwujud, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”  (An Nashr  1-3)

Dakwah pastilah menang, dengan atau tanpa kita. Maka, keterlibatan kita dalam dakwah adalah pilihan. Silahkan memilih, hendak jadi penonton, pemain, atau sekedar komentator dakwah. Semoga Allah berkenan menjadikan kita sebagai bagian dari pelaku kemenangan dakwah itu. Aamiin.

Via Riadi Budiman [Milis Du’at]