Tidak Berjilbab bukan berarti…

“Dia padahal udah pake kerudung loh. Tapi masih aja suka ngomongin orang”

“Berjilbab kok kelakuannya begitu”

Betapa tingginya ekspektasi orang-orang untuk para perempuan muslimah, perempuan berjilbab. Sehingga, ketika seorang perempuan muslimah berbuat salah, langsung muncullah kalimat seperti itu.

Padahal…

Tidak berjilbab bukan berarti boleh ngomongin orang. Karena, larangan ghibah tak hanya berlaku utk perempuan berjilbab, namun juga untuk semua umat Islam yang percaya akhirat: Perempuan berjilbab, belum berjilbab, bahkan lelaki dilarang untuk ghibah.

Tidak berjilbab bukan berarti boleh berbohong. Karena, anjuran berucap jujur ditujukan untuk kita semua.

Tidak berjilbab bukan berarti boleh berzina. Karena, larangan mendekati zina ditujukan untuk semua umat Islam yang menjadikan AlQur’an sbg pedoman hidup.

(Al Qur’an surah an-Nuur: 2-3, AlIsra’: 32, al-Furqaan: 68-69, al-Mumtahanah: 12)

Tidak berjilbab bukan berarti boleh mencuri atau korupsi. Ah, apalagi yang 1 ini kan..

Lihat Al Qur’an surah Al Maidah: 38-39

Tidak berjilbab bukan berarti boleh berkata kasar. Saya yakin semua orang tak suka diumpat, dimarahi dan dicaci maki.

Lihat AlQur’an Surah Thaha: 44

Tapi yang pasti, tidak berjilbab SUDAH PASTI TIDAK BOLEH dalam syari’at Islam 😀 Semua umat Islam yang percaya penuh bahwasanya dunia ini hanya sementara tentu sudah pada tau dong ya bahwasanya perintah berjilbab turun langsung dari Rabb yang Maha Sempurna, Allah Azza wa Jalla.

QS. Al-A’raf: 26, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

QS. Al-Ahzab: 59, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”

QS. An-Nuur: 31, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Lebih spesifik pada ayat pertama surat An-Nuur (QS. 24: 1) yang mendahului ayat-ayat lain, Allah SWT sudah mengingatkan, “(Ini adalah) satu surat yang kami turunkan dan kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalamnya), dan kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya.” Hal ini berarti hukum-hukum yang berada di surat itu adalah wajib.

Begitulah.. Ini bukan pembelaan atas kelakuan para perempuan berjilbab yang masih melanggar aturan syari’at maupun aturan sosial masyarakat setempat. This is merely a friendly reminder, bahwa bilamana melihat seorang perempuan berjilbab bertingkah tak layak, agar menghindari menghubung-hubungkan antara jilbabnya dengan tingkah lakunya.

Dua perkara tersebut bukanlah perkara paralel walaupun idealnya semua muslimah *dan juga muslim* memiliki karakter paripurna sebagaimana yang diteladankan Baginda Rasul. Namun ingatlah, perintah berjilbab sama wajibnya dengan perintah shalat, shaum Ramadhan, dan perintah Allah lainnya. Maka, saat perintah tersebut dilaksanakan ataupun dilanggar, tetap ada konsekuensi yang akan diterima oleh pelaksananya 🙂

Alhaq mirobbika fala taqunanna minal mumtariin. Wallahualam bishowwab.

Disalin dari: Blog Ketua RKI Sekadau.