Ramadhan Bersama Rasulullah

Rasulullah Saw merupakan sosok yang sempurna dalam menjalankan ibadah, termasuk puasa. Dan kita sebagai umatnya memiliki kesempatan meniru tauladannya dengan berpuasa sebagaimana Rasulullah saw. Alhamdulilah, setiap Ramadhan telah kita lalui dan tentunya semua yang berhubungan dengan Fiqih Ramadhan telah kita ketahui bersama. Namun tidak salah jika kita kaji lebih dalam tentang sunnah-sunnah shiyam Ramadhan. Karena dalam satu ibadah, jika banyak dilakukan kesunnahan, tentunya ibadah itu lebih banyak pahalanya. Dengan kata lain, adab ramadhan jika kita lakukan, maka Insya Allah, puasa kita lebih bermakna, lebih memiliki nilai optimal yang tentunya akan mendidik diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hal lainnya berarti bukan saja berusaha menjadi sholeh, lebih giat menggapai taqwa, namun kita mencintai Nabi dalam arti yang sebenarnya. Bukankah ketika mencintai Nabi, itu artinya kita mau, harus dan memaksa diri untuk melakukan apa yang pernah Rasulullah saw. lakukan? Dan bukan hanya sekedar sholawat saja tanpa ada aplikasi mengerjakan semua perintah atau semua tindak tanduk keseharian beliau SAW. Minimal ketika Ramadhan kita mengerjakan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah.

Berikut ini adalah beberapa adab shiyam Ramadhan yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat-sahabatnya.

MEMANTAPKAN NIAT

Nabi Muhammad Saw mengawali puasa dengan niat, sebab niat merupakan jiwa dari amalan. Setelah mengucapkan niat langkah berikutnya adalah memohon kepada Allah SWT agar niat tersebut di mantapkan. Berbeda dengan puasa sunnah semisal puasa Senin-Kamis yang niatnya boleh diniatkan pada pagi ketika hendak berpuasa. Maka puasa wajib di bulan Ramadhan ini niatnya dilakukan pada malam harinya untuk berpuasa esok hari. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW : “Barangsiapa yang tak berniat sebelum fajar untuk puasa maka tak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi) dan dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa: “Barangsiapa yang tak berniat puasa pada malam hari maka tak ada puasa baginya.”(HR An-Nasa’I, Al-Baihqi, Ibnu Hazm)

MELAKSANAKAN MAKAN SAHUR

Sahur sebagai suatu berkah dapat dilihat dengan jelas, karena itu mengikuti Sunnah dan menguatkan orang berpuasa, serta menambah semangat untuk menambah puasa. Juga mengandung maksud untuk membedakan dengan ahli kitab. Sebagaimana diriwayatkan Abu Said Al  Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Yang membedakan puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur”. (HR. Riwayat Muslim). Serta dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda: “Semua sahur adalah barakah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun di antara kalian hanya meneguk air. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-NYA bershalawat atas orang-orang yang melakukan sahur.” (HR. Ahmad, dan al-Mundziri)

MENYEGERAKAN BERBUKA (IFTHAR) MESKIPUN DENGAN SETEGUK AIR

Menyegerakan berbuka puasa merupakan hal yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. karena didalamnya ada banyak sekali kebaikan. Bahkan selain sebagai kebiasaan para nabi, menyegerakan berbuka juga merupakan pembeda puasa kita dengan puasanya orang-orang yahudi dan nasrani. Sebagaimana sabda baginda Nabi SAW dari Abu Hurairah Ra. : “Agama ini akan senantiasa menang selama manusia (kaum Muslimin) mempercepat buka puasanya, karena orang-orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya”. (Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban dengan sanad hasan). 

Kemudian, Rasulullah juga biasa berbuka puasa dengan kurma dan Air. Sebagaimana diceritakan oleh Anas bin malik: “Adalah Rasulullah Saw berbuka dengan korma basah (ruthab), jika tidak ada ruthab maka berbuka dengan korma kering (tamr), jika tidak ada tamr maka minum dengan satu tegukan air. (HR. Ahmad, Abu Daud, Baihaqi, Hakim, Ibn Sunni, Nasai, Daruquthni dan lainnya).

BANYAK BERDOA KETIKA PUASA & BERDOA KETIKA BERBUKA

Berdoa ketika berbuka puasa merupakan salah satu waktu doa yang mustajab, seperti banyak disebut dalam hadist-hadist. Antara lain:Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya, orang yang puasa ketika berbuka, Imam yang adil dan doanya orang yang didhalimi. (HR. Tirmidzi, Ibn Majah, dan Ibnu Hibban). Apalagi detik-detik menjelang berbuka, Insya ALLAH do’anya Mustajab. Jadi banyaklah berdoa ketika menjelang berbuka. Adapun doa yang diajarkan oleh Nabi SAW ketika berbuka puasa adalah: “Dzahabadh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah” Artinya: Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala Insya Allah. (HR. Abu Daud, Baihaqi, Hâkim, Ibn Sunni, Nasâ’i, Daruquthni dan lainnya).

Disini kita tidak membicarakan doa-doa lain ketika berbuka, yang terpenting inilah doa yang pernah Nabi saw. ajarkan ketika berbuka puasa Ramadhan.

I’TIKAF DI 10 HARI AKHIR RAMADHAN

Rasulullah saw apabila di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan senantiasa melaksanakan I’tikaf, demikianlah hadis dari Aisyah Ra:“Bahwa Nabi SAW. biasa beri’tikaf pada sepuluh yang akhir dari bulan Ramadhan sampai Allah mengambil nyawanya”. Kemudian Hadis dari dari Ali Ra.: bahwa Nabi SAW. biasa membangunkan keluarganya pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan.

Disamping kegiatan-kegiatan rutinitas ramadhan seperti diatas ada beberapa amalan-amalan yang sangat dianjurkan oleh Baginda Rasulullah SAW dibulan Ramadhan yaitu:

1.    Memberi Makan Orang yang Puasa. “Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, bn Mâjah, Ibn Hibban dan dishahih kan oleh Imam Tirmidzi)

2.    Banyak Melakukan Ibadah di Malam Ramadhan (Sholat).“Barangsiapa melakukan sholat pada malam-malam Ramadhan dengan iman dan mengharapkan keridhoan-Nya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. (HR. Bukhori dan Muslim)

3.    Banyak sedekah dan tadarus Al-Qur’an. Dari Ibnu Abbas,“Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dan lebih besar kedermawanannya pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Jibril biasanya menemuinya setiap malam Ramadhan, lalu tadarus Al-Qur’an (dengan beliau). Sungguh Rasulullah Saw ketika ditemui Jibril menjadi orang yang lebih murah hati dalam kebaikan sehingga lebih banyak memberi (seperti) tiupan angin.” (HR. Bukhori dan Muslim)

4.    Memperbanyak istighfar pada malam terakhir Ramadhan. Rasulullah Saw bersabda; “Pada bulan Ramadhan umatku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan pada seorang Nabi pun sebelumku. Pertama, bila datang setiap awal Ramadhan, Allah melihat mereka. Barangsiapa dilihat Allah, maka selamanya tidak akan disentuh adzab. Kedua, bau mulut mereka pada sore hari disisi Allah lebih harum dari aroma minyak kesturi. Ketiga, para malaikat memohonkan ampunan bagi setiap siang dan malam. Keempat, Allah menyuruh surga-Nya dengan firman-Nya : “Bersiap-siaplah dan hiasilah dirimu untuk hamba-hamba-KU. Kamu telah dekat saat beristirahat dari kelelahan hidup di dunia dan kembali ke tempat-KU dan rahmat-KU.” Kelima, bila telah tiba akhir Ramadhan, ALLAH mengampuni dosa-dosa mereka semua.” (HR. Ahmad, Baihaqi dan Al-Bazzar)

Semoga dengan mengetahui puasa ala Rasulullah saw, kita jadi mampu untuk mengisi Ramadhan kali ini dengan hal-hal yang bisa menjadikan semakin takwa, semakin dekat dengan-Nya dan pada Ramadhan kali ini pula kita mampu optimalkan sebaik mungkin. Amin.

Alfian Tanjung

Sumber: Suara Islam

 

 

 

 

Tidurnya Orang Puasa Bukan Ibadah

Oleh: KH. A Cholil Ridwan, Lc (Ketua MUI Pusat)

PERTANYAAN:
Assalamu’alaikum. Pak Kiyai, dalam khutbah Jum’at di sebuah Masjid  yang berada di Kawasan Kalibata, seorang Khotib menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan. Beliau mengatakan (tanpa menyebut teks hadits yang dimaksud) bahwa tidur di siang hari pada bulan Ramadhan adalah ibadah, sementara diamnya adalah dzikir. Apa itu benar?. Syukran

Pak Nur, Kalibata, Jakarta Selatan

Waalaikumussalam Wr Wb

Pak Nur yang dirahmati Allah

Memang ada beberapa hadits populer seputar Ramadhan yang sering dibacakan oleh pada da’i, khotib dan penceramah. Mereka bermaksud untuk memotivasi kaum muslimin untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Berkaitan dengan persoalan yang Bapak tanyakan juga demikian. Ungkapan “tidur di siang hari pada bulan Ramadhan adalah ibadah” itu sudah demikian luas diketahui oleh banyak orang dan disampaikan secara terus-menerus setiap menyambut Ramadhan dan dalam bulan Ramadhan.

Betapa pentingnya mengenai permasalahan ini membuat seorang ulama ahli hadits Indonesia, KH. Musthofa Ali Ya’kub menulis secara khusus sebuah buku yang berjudul ”Hadits-hadits Palsu Seputar Ramadhan”. Setelah dilakukan pengkajian ternyata hadits yang mengungkapkan hal itu bukanlah hadits yang tercantum dalam kitab-kitab hadits populer. Hadits itu diriwayatkan oleh Imam Al Baihaki dalam Kitab Syu’ab al Iman, kemudian dinukil oleh Imam As Suyuti dalam kitab Al Jami’ al Saghir.

Bunyi hadits itu adalah: ”Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan dan doanya diampuni” (Jami’ Al Saghir, karya Imam As Suyuti, juz II/678)

Menurut Imam Al Baihaki, di dalam sanad hadits itu terdapat nama-nama seperti Ma’ruf bin Hasan, seorang rawi yang dha’if dan Sulaiman bin Amr al Nakha’i, seorang rawi yang lebih dhaif dari pada Ma’ruf. Bahkan menurut Al Hafizh Al Iraqi, Sulaiman adalah seorang pendusta. Demikianlah perkataan Imam Al Baihaki sebagaimana dikutip oleh Al Minawi dalam Kitab Faidhul Qadir Juz VI/291.

Al Minawi sendiri kemudian menyebutkan beberapa nama rawi yang terdapat dalam sanad hadis di atas, yaitu Abdul Malik bin Umair, seorang yang dinilai sangat dha’if. Rawi yang paling parah adalah Sulaiman bin Amr al Nakha’, karena menurut para ahli hadits dia adalah pendusta dan pemalsu hadits. Demikian merupakan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Imam Bukhari dan Yazid bin Harun. (lihat Mustofa Ali Ya’kub, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan, hal. 42)

Sementara itu menurut Ibnu Hibban, Sulaiman bin Amr al Nakha’i adalah orang Baghdad, yang secara lahiriyah adalah orang shalih tetapi ia memalsu hadis. Imam Al Hakim yakin secara pasti bahwa Sulaiman Al Nakha’i adalah pemalsu hadis. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa status hadis di atas adalah palsu (mawdhu’). Hadis palsu jelas tidak bisa dijadikan sebagai hujah (dalil).

Dengan demikian tidurnya orang yang berpuasa bukanlah ibadah karena hadits itu tidak benar berasal dari Rasulullah shollahu ‘alaihi wassalam.

Tingkatkan Amal Ibadah

Bagi setiap muslim, Ramadhan adalah bulan ibadah. Bulan yang didalamnya diperintahkan untuk berpuasa, shalat tarawih, membaca al Qur’an, bersedekah, iti’kaf pada sepuluh hari terakhirnya. Berbagai amal-amal ketaatan diperintahkan untuk dilakukan di bulan Ramadhan ini sebagai sebab untuk mendapatkan surga Allah yang pintu-pintunya dibuka khusus di bulan ini dan hendaklah menjauhi berbagai pelanggaran dan kemaksiatan yang dapat mendorongnya kedalam neraka.

Untuk itu hendaklah setiap muslim bersabar di dalam melaksanakan amal-amal tersebut menjadikan waktu-waktunya penuh dengannya dan menyedikitkan waktu tidurnya. Tidaklah dibenarkan seorang yang berpuasa hanya menghabiskan sepanjang siangnya dengan tidur meskipun hal ini tidaklah diharamkan selama dirinya masih menunaikan kewajiban-kewajiban shalat pada waktu-waktunya.

Tidaklah banyak kebaikan dan keberkahan yang bisa diraih oleh orang yang mengisi waktunya hanya dengan tidur saja karena dirinya telah kehilangan banyak kesempatan beribadah. Jadi jangan sia-siakan waktu kita di bulan Ramadhan hanya dengan memperbanyak tidur.Allahuma Balighna Ramadhan…

Sumber: Suara Islam

Harmoni Keluarga Di Bulan Ramadhan

Oleh: Ahmad Taufiq Abdurrahman

Ibadah Ramadhan bersama keluarga, tak saja memberi sehat jasmani, kuat iman dan kejernihan hati, tapi juga mengembalikan nilai keharmonisan dan keakraban keluarga. Saat Ramadhan kita dapat bersahur bersama keluarga, mengerjakan shalat tarawih bersama, dan banyak ibadah lainnya, yang dapat membuat puasa kita tidak sekadar menahan lapar dan haus, tapi memberi nilai kebersamaan.

Bulan Ramadhan, juga dapat menjadi bulan pendidikan bagi keluarga dalam banyak aspek, baik tarbiyyah ‘ilmiyyah (pendidikan keilmuan) maupun tarbiyyah ‘amaliyyah (pendidikan praktek).

Dalam tarbiyyah ‘ilmiyyah, Allah telah menitahkan dalam surah at-Tahrîm ayat 6 sebagai landasan untuk mendidik anggota keluarga, dan perintah agar kita dan keluarga selalu berada dalam ketaatan dan upaya‘amru bil-ma’rûf wa nahyu ‘anil munkar.

Kepala rumah tangga berkewajiban mendidik istri dan anak-anaknya menuju pemahaman Islam yang benar. Hal-hal yang bisa diajarkan selama Ramadhan, mencakup pengenalan yang benar terhadap Allah, mulai dari tauhîd rubûbiyyah, ulûhiyyah, hingga tauhîd asmâ` wash-shifât. Kemudian pengenalan terhadap Rasulullah, meliputi sîrah dan seluruh aspek yang beliau teladankan. Terakhir, pengenalan terhadap Islam.

Dalam tarbiyyah ‘amaliyyah, orang tua harus mampu memberi pendidikan yang dapat menunjang ibadah puasa anak. Salah satunya dengan memberi tuntunan amalan sunah yang bisa mereka lakukan, seperti: mendahulukan berbuka, mengakhirkan sahur, membiasakan qiyâmul-lail (bangun malam dan mengerjakan tarawih), membiasakan tadarus dan zikir, serta mengajak mereka menyambut lailatul qadar.

Untuk pendidikan mendahulukan berbuka, Rasulullah telah bersabda, “Selalu manusia itu berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Begitu pula dengan pendidikan untuk mengakhirkan sahur yang penuh dengan kebaikan. Dalam sebuah hadits diterangkan: Dari Anas RA, “Kami sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian kami bangkit untuk shalat. Aku berkata kepada beliau, “Berapa lama antara keduanya (sahur dan shalat subuh)?” Beliau menjawab, “Kira-kira orang membaca lima puluh ayat.” (HR. Muslim)

Saat Ramadhan, keluarga juga harus dibiasakan untuk melakukan qiyâmul-lail (bangun malam dan mengerjakan tarawih). Karena qiyâmul-lail pada bulan Ramadhan merupakan waktu yang sangat tepat untuk memohon keberkahan dan keridhaan Allah.

Dalam sebuah hadits Rasulullah menyatakan bahwa setiap sepertiga dari akhir malam, Allah akan turun ke langit dunia kemudian berfirman, “Barang siapa berdoa kepada-Ku pasti akan Ku-kabulkan, barangsiapa meminta kepada-Ku, pasti Aku akan memberinya, barangsiapa memohon ampunan-Ku pasti Aku akan mengampuninya.” (HR. al-Bukhari)

Membiasakan tadarus dan zikir juga sangat layak dilakukan saat mengarungi bulan yang penuh berkah ini. Kedua amalan ini sungguh ringan di bibir, namun amat berat timbangannya di hari kiamat. Rasulullah bersabda, “Bacalah al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pembela bagi yang membacanya.” (HR. Muslim)

Menjalani Ramadhan, juga akan sangat baik jika kita dapat mengajak keluarga untuk bersama-sama menyambut lailatul qadar. Kegiatan ini adalah tradisi Rasulullah. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits dari Aisyah RA, “Bila masuk malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, Rasulullah menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya (tidak menggauli istri-istrinya).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Bulan Kebersamaan

Puasa adalah ibadah yang khusus untuk Allah SWT. Tapi, efeknya sangat luas bagi hamba-Nya yang mengerjakan. Termasuk dalam mengharmoniskan hubungan keluarga. Dengan berpuasa, bukan berarti seseorang harus menjauh diri dari mempergauli istri dengan baik, tapi tergantikan dengan mengisi ibadah untuk bertaqarrub kepada Allah sepanjang malam Ramadhan. Rasulullah meneladani, walau beliau berpuasa, tapi hak-hak keluarganya tetap dipenuhi.

Dalam praktek keseharian, hanya di bulan Ramadhan kita bisa makan bersama secara komplit sekeluarga, baik saat berbuka atau sahur. Di bulan lain, kebersamaan ini rasanya sulit ditemukan, apalagi bagi keluarga yang anggotanya selalu sibuk dengan pekerjaan rutin dan berbagai tugas.

Bulan Ramadhan membuka peluang dan kesempatan besar untuk mewujudkan keharmonisan rumah tangga. Mulai dari kebersamaan, suasana keberagamaan, peningkatan kondisi rohani keluarga, dapat kita latih selama Ramadhan, sebagaimana diteladani Rasulullah.

Makan sahur yang dianjurkan, di satu sisi dapat dijadikan momen meraih keberkahan shaum di siang hari, secara fisik badan jadi sehat dan segar karena makan sahur. Di sisi lain, makan sahur juga bisa dijadikan sarana menumbuhkan kebersamaan. Yakni, sahur dilakukan secara bersama, berhimpun dalam satu meja, diawali dengan doa bersama dan membereskan meja makan setelah selesai makan sahur.

Demikian juga ifthâr (buka puasa) bersama keluarga. Mengajak keluarga berdoa yang dapat dipimpin oleh salah seorang anggota keluarga dapat menumbuhkan kebersamaan. Juga dapat diadakan semacam kultum (kuliah tujuh menit) yang dilakukan secara bergantian dengan tema-tema arahan yang bermanfaat untuk keluarga.

Belum lagi kesempatan emas saat ada kesempatan berangkat bersama ke masjid atau mushalla untuk melakukan shalat tarawih berjamaah. Sesekali, shalat tarawih bisa dilakukan di rumah bersama keluarga.

Keluarga akan kian harmonis di bulan Ramadhan jika dapat meluangkan waktu untuk berkumpul menunaikan program tadarus (membaca al-Qur`an) bersama. Bisa dilakukan pula dengan cara bergantian. Bukan mengejar khatam (tamat) bacaan al-Qur`an, tapi sekedar untuk menumbuhkan kebersamaan dalam suasana religius keluarga.

Pada sepuluh malam terakhir, keluarga dapat kita ajak untuk melakukan i’tikaf. Bagi para istri, cukup melakukannya di dalam rumah dengan bimbingan dan arahan sang suami, atau dapat bertanya kepada seorang ustadz yang mampu memberikan fatwa-fatwanya terkait dengan i’tikaf para wanita muslimah.

Boks 1

Keluarga Sakinah Saat Ramadhan

Keluarga sakinah akan memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai bulan beribadah dan bulan pembinaan ketakwaan. Mumpung bulan istimewa penuh berkah tiba, perbaikan manajemen ibadah seluruh anggota perlu dilakukan:

  1. Rohani: Membangkitkan semangat beribadah keluarga.
  2. Amali:
    • Menyepakati tata tertib.
    • Menghidupkan suasana berlomba dalam beribadah.
    • Memudahkan penggunaan perlengkapan ibadah.
    • Menyelesaikan pekerjaan rumahtangga secara efektif dan efisien.
    • Membagi pekerjaan kepada seluruh anggota keluarga sesuai kemampuan.
    • Bekerja sama antar anggota keluarga, saling tolong menolong dalam beramal shalih, dan menghidupkan hak-hak ukhuwah.
    • Melakukan mutâba’ah bersama terhadap amalan sehari-hari, sehingga masing-masing individu dalam keluarga bisa mencapai target ibadahnya.
  3. Materi:
    • Mengeluarkan dana yang cukup untuk optimalisasi ibadah Ramadhan.
    • Mengalokasikan dana untuk hal-hal yang mendukung peningkatan nilai rûhiyah (spiritual),ta’abudiyah (ibadah) dan khuluqiyyah (akhlak).
    • Menyediakan alat-alat rumahtangga untuk membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien.
    • Melengkapi sarana ibadah.

Boks 2

Berkah Sahur Bersama

Dari Salman RA, Rasulullah SAW bersabda, “Berkah itu ada pada tiga perkara: al-Jama’ah (makan bersama), ats-Tsarid (roti basah), dan makan sahur.” (HR. Thabrani dalam al-Kabîr 5127, Abu Nu’aim dalam Dzikru Akhbar AShbahan 1/57)

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda. Sesungguhnya Allah menjadikan berkah pada makan sahur dan takaran.” (HR. as-Syirazy (al-Alqzb) dalam Jâmi’ ash-Shagîr 1715, dan al-Khatib dalam al-Muwaddih 1/263 dari Abu Hurairah)

Dari Abdullah ibn al-Harits, dari seorang sahabat Rasulullah: Aku masuk menemui Nabi SAW ketika beliau sedang makan sahur. Beliau bersabda, “Sesungguhnya makan sahur adalah berkah yang Allah berikan kepada kalian. Maka janganlah kalian tinggalkan.” (HR. Nasa`i 4/145, dan Ahmad 5/270)

Keberadaan sahur sebagai berkah sangatlah jelas, karena dengan makan sahur berarti mengikuti Sunnah, menguatkan dalam puasa, menambah semangat untuk menambah puasa karena merasa ringan orang yang puasa. Dalam makan sahur juga (berarti) menyelisihi Ahlul Kitâb, karena mereka tidak melakukan makan sahur. Oleh karena itu Rasulullah menamakannya dengan “makan pagi yang diberkahi”. (HR. Ahmad 4/126, Abu Daud 2/303, dan Nasa’i 4/145)

Disalin dari: Qalam Mag