Selamat Jalan Istriku, Engkau Layak Atas Karunia Syahid itu

 ‪17 tahun yang lalu, saat masih aktif menjadi penulis buletin dakwah, aku membaca nama pelanggan yang memesan buletin tersebut. Hj. Robiatul Adawiyah, pasti wanita yang sudah tua. Sudah naik haji dan namanya jadul sekali. “Akhi, seperti apa sih ibu Robiatul ini” tanyaku kepada Pak Marjani yang bertugas mengantar buletin. ” Ndak tahu, nggak pernah ketemu, yang saya tahu dia pesan buletin itu untuk di kirim  via bis ke Kotabangun”. Wah wanita yang mulia, mau menyisihkan uang untuk berdakwah kepada masyarakat di hulu sungai Mahakam. Tak lama kemudian setelah  kita menikah, Buletin Ad Dakwah dari Yayasan  Al Ishlah Samarinda diantar ke rumah. Ternyata wanita mulia tersebut adalah engkau istriku, bukan wanita tua seperti yang kukira. Melainkan mahasiswi yang aktif mengajar di Taman Al Quran.Istriku, beruntung  aku dapat memilikimu. Sudah beberapa pemuda kaya yang mencoba mendekatimu tetapi selalu kau tolak. Kelembutanmu dan kedudukanmu  sebagai putri seorang ulama besar menjadi magnet bagi para pria yang ingin memiliki istri sholehah. Kamu beralasan belum ingin menikah karena mau konsentrasi kuliah. Padahal alasan utamanya adalah kamu masih ragu dengan kesholehan mereka. Ketika Ustadzah Purwinahyu merekomendasikan diriku, tanpa banyak tanya kau langsung menerimaku. Hanya karena aku aktif ikut pengajian kau mau menerimaku, tanpa peduli berapa penghasilanku.Istriku, semua orang mengakui bahwa kau wanita yang tangguh. Jarang seorang wanita bercita-cita memiliki delapan anak sepertimu.  Melihatmu seperti melihat wanita Palestina yang berada di Indonesia. Jika bertemu dengan Ustadz Hadi Mulyadi, suami mba Erni ustadzahmu, pasti pertanyaan pertama kepadaku adalah, “ Berapa sekarang anakmu?”. Sering orang bertanya kepadaku, “ Gimana caranya ngurus anak sebanyak itu?” Mudah, rahasianya adalah menikahi wanita yang tangguh sepertimu.

Kehangatanmu membuat anak-anak kita merasa nyaman di dekatmu. Di saat kau lelah sepulang dari mengisi halaqoh atau ta’lim mereka segera menyambutmu dan melepaskan kekangenan mereka. Kadang lucu melihat mereka membuntuti kemana kamu pergi. Kamu ke dapur mereka bergerombol di sekitarmu, pindah ke ruang tamu, pindah pula mereka ke ruang tamu. Masuk ke kamar, berbondong-bondong mereka ke kamar. Sampai ada anak yang selalu memegang-megang bajumu dan kamu berkomentar,” Nih anak kayak prangko aja, nempeeel terus.” Jangan salahkan mereka, akupun memiliki perasaan yang sama dengan mereka.

Kadang jika cintaku meluap aku berkata padamu, ”Bener nih kamu ndak nyantet aku? Aku kok bisa tergila-gila begini sama kamu?” Kamu tersenyum dan berkata,” Cinta Umi ke Abi lebih besar dari cinta Abi  ke Umi, Abi aja yang ndak tahu.” Rasulullah bersabda,” Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” (HR. Ahmad). Sungguh aku merasa telah mendapatkan segalanya dengan kau di sisiku.

Kepribadianmu yang mudah bergaul menjadikanmu disenangi oleh banyak orang. Kamal  berkata, “Umi terkenal banget di sekolah. Aku, Mba Aisyah, Mas Nashih, Hamidah, Hilma ini terkenal di sekolah karena anak Umi. Guru-guru kenal kami karena kami anak umi.” Aku ingat perjuanganmu menggalang beberapa orang tua murid ke kantor diknas untuk meminta tambahan kelas agar anak kita yang terlalu muda bisa diterima sekolah. Akhirnya SDN 006 Balikpapan mendapat tambahan kelas dan anak kita bisa bersekolah di sana. Seharusnya aku yang melakukan hal itu, bukan kamu.Aku terpesona dengan caramu menjalin silaturahim dengan keluarga besarmu. Ketika kita pindah ke Balikpapan, sering kakak-kakakmu menelpon menanyakan kapan  liburan ke Samarinda. Mereka rindu kepadamu. Kakakmu KH. Fachrudin, seringkali menelpon,” Kita mau ngadain acara ini, kamu ke Samarinda kah?” Sya’rani, kakakmu yang  sering bepergian ke Jawa, ketika mendarat di Balikpapan pun sering berkata,” Baru dari Jawa, mau ikut saya sekalian naik mobil ke Samarinda?” Keponakan-keponakanmu pun sering bertanya, “ Acil Robiah kapan ke Samarinda.” Jika kita liburan ke Samarinda, maka kemeriahan meledak begitu mendengar suaramu mengucapkan salam. “ Wah, Haji Robiah dari Balikpapan.”

Aku kagum dengan semangatmu melaksanakan amanah dakwahmu. Sering kerinduanmu kepada keluargamu tertahan karena ada amanah dakwah yang harus kamu kerjakan. ”Sebenarnya akhir pekan ini keluarga besar kumpul. Ada acara keluarga. Tapi ada halaqoh ini dan majelis talim ini jadi ndak bisa ke Samarinda.” Semoga Allah SWT memasukkanmu ke dalam barisan orang-orang yang berjuang menegakkan agama ini.

Kesibukanmu berdakwah memang menyita waktumu. Tapi aku ridho karena kau tetap komitmen untuk mengurus rumah tangga dengan baik. Aku ridho ketika PKS berdiri, kamu bergabung dan berdakwah bersama mereka. Ku lihat kau begitu menikmati hidupmu yang mungkin bagi pandangan sebagian orang sangat melelahkan.Kamu juga aktif mengisi kajian siroh shahabiyah di Radio IDC FM. Ketika engkau ingin berhenti karena hamil dan mengajukan ustadzah lain, mba Irna yang mengasuh acara menolak dan mengatakan sebaiknya cuti saja dan sementara akan diputar ulang rekaman yang terdahulu. Saya tahu mereka pun telah jatuh cinta kepadamu.

Saat Ustadz Cahyadi mengadakan pelatihan keluarga, beliau meminta para peserta menulis tentang pasangannya. Aku terkejut ternyata engkau mengenaliku dengan baik. Engkau tahu makanan yang kusukai dan kubenci, teman-teman yang kuanggap shahabatku, karakter-karakterku, dan teman-teman Halaqohku. Diam-diam engkau memperhatikanku. Terimakasih telah memahami diriku.

Pernah kau mengatakan bahwa kau ingin naik haji bersamaku. Aku mengatakan bahwa kamu sudah naik haji sehingga tidak wajib lagi. Kalau aku punya uang aku akan mengajak anak kita naik haji bukan kamu. Kamu berkata, “Aku akan kumpulkan uang daganganku agar bisa naik haji bersamamu.” Kamu pernah bercerita bahwa saking nikmatnya berada di Kota Mekah, kamu pernah berusaha tukar kloter dengan orang lain agar bisa bertahan lebih lama di kota Mekah.

Istriku, aku suka dengan caramu berbakti kepadaku. Ketika ustadz Mulhadi mengajakku mendirikan SDIT Nurul Fikri Balikpapan kau pun mendukungku. Padahal kau tahu bahwa ini akan kembali mengurangi jatah uang belanja untukmu. Bahkan kau berkata,” Aku akan alihkan infaq-infaq yang selama ini ke lembaga zakat ke Nurul Fikri.” Selama ini kau memang menyisihkan uang transport dari mengisi majelis-majelis ta’lim untuk menunjang dakwahmu.   

Istriku, aku menikmati sentuhan bibirmu ke pundakku sambil memelukku di saat  kita naik motor berdua. Mungkin itu caramu menunjukkan kesetiaanmu. Aku  tersanjung dengan gayamu menunjukkan cemburumu. Aku merindukan caramu menegurku jika engkau melihatku lalai dalam urusan agama kita. Aku merasa bahagia saat kau memujiku. Aku merasa hebat ketika engkau bermanja kepadaku.Aku salut dengan kecintaanmu terhadap ilmu. Setiap ada ta’lim yang mendatangkan ustadz yang berkualitas  kau berkata, “ Harus duluan nih biar dapat duduk di depan.” Sayang, karena begitu banyaknya anakmu terkadang kau terhambat untuk berada di depan.  Pernah kau begitu sedih karena tidak dapat menghadiri  ta’lim yang diisi DR. Samiun Jazuli. Terlintas di dalam pikiranku, kelak aku akan membiayaimu untuk melanjutkan kuliah S2 agar kau bahagia.

Kau juga begitu bersemangat mengikuti tatsqif (Kajian Tsaqofah Islam) yang diadakan oleh PKS. Ketika ada ujian tatsqif, kau berusaha mengerjakan soal-soal tanpa berusaha menyontek. Tiba-tiba kau mendengar peserta ujian yang lain di sebelahmu saling berbisik tentang jawaban soal yang engkau tidak bisa mengerjakannya. Kamu pun menulis jawaban tersebut. Sepulang ke rumah engkau begitu menyesal dan gelisah. Engkau merasa berbuat curang karena mengerjakan soal dari mendengar percakapan orang lain. “Gimana nih Mas, aku sudah nyontek?” tanyamu. Aku jawab sambil bercanda,” Telpon dosennya, minta dicoret jawabanmu yang dapat dari hasil mendengar itu”. Ternyata engkau benar-benar menelpon ustadz Fahrur agar jawaban atas soal tersebut dicoret saja. Itu yang sering kulihat darimu, begitu takut akan dosa-dosamu. Aku bangga padamu istriku.

Istriku, hal yang sering membuatku bergetar adalah di saat melihat engkau sholat. Begitu khusyuk dan menjaga adab. Tidak pernah aku melihatmu terburu-buru di dalam sholat. Aku menikmati melihat caramu menghadap Tuhanmu. Selelah apapun dirimu kamu selalu berusaha membaca Quran satu juz perhari. Engkau juga tidak ingin meninggalkan dzikir harianmu. Haru rasanya saat-saat melihatmu tertidur dengan Quran masih berada di tanganmu.

Sering aku berangan-angan aku akan membahagiakanmu kelak saat anak-anak sudah besar. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke kota wisata. Aku akan membelikanmu perhiasan walaupun sekedarnya.

Karaktermu yang tidak pernah meminta memang membuatku lalai memperhatikan kebutuhanmu. Bahkan motor pun tidak pernah kubelikan. Motor butut yang kau pakai adalah motor yang memang telah kau bawa dan kau miliki sejak masih gadis. Aku yakin bahwa kebersihan hatimulah yang memancarkan aura persahabatan dari wajahmu. Banyak yang mengatakan kepadaku, ”Beliau adalah tempat saya menyampaikan curhat.” 

Terkadang kau terlambat pulang dari mengisi pengajian, ketika ku tanya kenapa terlambat, kau menjawab, “ Kasihan ada yang pingin curhat, jadi dengerin dia dulu. Semoga  Allah segera kasih dia jalan keluar.” Saya yakin mereka curhat kepadamu karena mereka merasakan kebaikanmu.  Kamu sering memujiku, “Suami yang pintar”. Ku lihat, kamulah yang lebih pintar mengaplikasikan teori ke dalam praktek dunia nyata.

Sebenarnya aku banyak belajar darimu. Kamu pintar sekali memulyakan orang lain. Kamu sering memberikan sesuatu kepada tetangga-tetangga kita. Terkadang aku malu karena yang kau berikan adalah hal-hal yang sederhana. “ Malu ah ngasih ke tetangga segitu. Nggak level buat mereka.” Ternyata sikap perhatianmu kepada tetangga inilah yang membuat mereka mencintaimu. Kamu mengatakan kepada pembantu kita, “Kumpulkan teman-teman yang lain, nanti saya yang membimbing bacaan Qurannya.”

Dengan sabar kamu melatih mereka membaca Quran. Kau pun membelikan peralatan memasak sebagai hadiah kepada mereka yang lulus dan melanjutkan bacaan ke jilid berikutnya. Pernah kau melihat salah seorang di antara sedang berlatih mandiri di rumahnya. Kau berkata,” Bahagianya aku Bi melihat mereka mau melatih bacaan secara mandiri.” Sampai terucap dari mulut pembantu kita, “Bu, saya ini mendapat hidayah dari tangan Ibu lho.”

Terkadang aku lupa untuk memberikan uang belanja, ketika kutanya engkau menjawab, ”Aku pakai uang daganganku”.

Kau kadang membelikanku baju sebagai hadiah ulang tahunku. Aku memang seorang yang berprinsip minimalis, terkadang jika ada barang yang menurutmu harus dibeli, aku mengatakan bahwa itu tidak perlu dibeli, kita da’i tidak usah terlalu mengejar kesempurnaan. Seperti biasa kau pun mengalah dan berkata,” Ya sudah pake uang aku aja.”

Ketika engkau mengalami pendarahan saat melahirkan anak kita yang ke delapan, engkau mengalami step. Sungguh hancur hatiku melihatmu menderita.  Ketika dokter mengatakan butuh tiga kantung darah, aku segera keluar berlari menuju PMI tanpa sempat mengambil alas kaki. Aku sangat takut kehilangmu.

Ketika diberitahu bahwa putra kita telah meninggal, aku sudah tidak peduli lagi, “Tolong selamatkan istri saya dok.” Setelah dioperasi kau sempat tersadar, aku tidak tega untuk mengatakan bahwa putra kita telah meninggal. Aku tidak ingin kau tahu bahwa kandungan yang sangat kau cintai dan sering kau elus-elus dengan penuh cinta telah mendahuluimu.  Dokter mengatakan bahwa kondisi sangat kritis, biasanya kondisi ini berakhir dengan kematian. Dengan kesedihan yang terus mengelayuti aku berkata, ”Umi tidak usah ngomong apa-apa, semua abi yang urus, Umi nyebut Allah saja.” Aku berharap seandainya Allah memanggilmu, maka ucapan terakhirmu adalah Allah. Walau tidak ada suara yang ku dengar, kulihat mulutmu menyebut nama Allah dua kali.” Saat itu aku bernazar, aku pun bertawashul dengan segala amalku agar Allah memberikan kesempatan agar engkau masih bisa bersamaku. Dan ternyata anak-anak kita bercerita bahwa saat itu di rumah mereka juga bernazar agar ibu  mereka selamat.

Dengan sisa harapan yang tersisa di hatiku, aku berusaha membangkitkan semangatmu,”Cepat sembuh,anak-anak kita menunggumu di rumah.” Engkau mengangguk-angguk.Ternyata Allah SWT sangat mencintaimu. Allah SWT ingin memberimu karunia syahid. Kematianmu karena melahirkan putra kita menunjukkan bahwa Allah ingin memberikan yang terbaik untukmu.  Sebagaimana Rasulullah mengatakan bahwa wanita yang mati karena melahirkan termasuk orang-orang yang mati syahid.Seorang shahabatmu, Ustadzah Mahmudah, menelponku,” Mba Robi itu kalau saya perhatikan sangat khusyuk kalau memimpin doa atau mengaminkan doa. Kalau berdoa, saat kalimat Wa amit ha ala syahadati fi sabilik (matikanlah jiwa kami dalam syahid di jalan-Mu) sering saya lihat mba Robi meneteskan air mata. Ternyata kita memang tidak boleh meremehkan kekuatan doa.”  Pak Emil tetangga kita berkata, ”Saya tidak pernah berinteraksi dengan almarhumah. Hanya istri saya yang bergaul dengannya. Tapi kepergiannya membuat saya merasa kehilangan sampai dua hari” Mungkin dia shock karena melihat istrinya terguncang.

Ustadzah Sujarwati berkata,” Saya mengisi pengajian dekat SMPN 10, mereka bercerita bahwa almarhumah ustadzah Robiah yang merintis majelis ta’lim ini. Mereka semua kemudian menangis karena teringat istri sampeyan.”

Banyak yang terkejut dengan kepergianmu. Ada yang baru mendengar kematianmu, datang ke rumah untuk kemudian menangis karena kehilanganmu.

Hari kematianmu menjadi saksi atas kesholihanmu. Begitu banyak yang datang untuk memberikan penghormatan kepadamu. Ustadz Muslim mengatakan,” Sahabat-sahabatnya dari pesantren Al Amin, Madura sudah siap-siap mau beli tiket untuk ke Balikpapan, tapi mendengar jenazah akan di bawa ke Samarinda mereka tidak jadi datang.” Beberapa ustadz datang dari Samarinda. Bahkan Ustadz Masykur Sarmian, Ketua DPW PKS pun datang dari Samarinda dan menjadi imam yang mensholatimu. Aku pun melihat ustadz Cahyadi Takariawan, penulis buku dari Yogya, hadir di masjid itu. Mungkin Allah sengaja mengutus orang-orang sholih tersebut untuk menyempurnakan pahalamu. Motor-motor memenuhi jalan masuk ke komplek kita. Seseorang dengan heran mengatakan bahwa kemarin kepala kantor meninggal di komplek ini yang datang nggak sebanyak ini. Ini cuma ibu rumah tangga kok banyak banget yang datang.

Sesudah di sholatkan di masjid Balikpapan, engkaupun dibawa ke Samarinda. Sampai di masjid Ar Raudhah, Aku melihat KH. Mushlihuddin, LC Koordinator Qiroati untuk Kalimantan hadir di sana. Kamu sering berkata bahwa kamu sudah menganggap beliau, gurumu membacaQuran,  seperti ayah sendiri. Kecintaanmu kepada Quran membuat kamu mencintai beliau yang selalu komitmen berjuang menegakkan Al Quran di muka bumi.  Sering kamu mengatakan bahwa kamu kangen dengan gurumu, ustadz Mushlih. Segera aku meminta beliau untuk menjadi imam sholat jenazah untukmu.

Kakakmu, Ibu Mursyidah berkata, ”Kepergiannya persis seperti ayahnya, KH. Abdul Wahab Syahrani. Disholatkan dari masjid ke masjid.” Sebelum meninggal beliau berwashiat untuk dikuburkan di Kotabangun. Karena washiat itu beliau disholatkan di tiga masjid di tiga kota oleh murid-murid beliau. Pertama disholatkan di Islamic Centre Samarinda, kemudian disambut oleh Bupati Kutai Kartanegara ( Beliau adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia Kab. Kukar) dan disholatkan di masjid agung Tenggarong, kemudian disholatkan kembali oleh murid-murid beliau di masjid Kotabangun.Dengan lelehan airmata aku ikut memandikanmu, mengangkatmu, memasukanmu ke liang lahat. Seseorang berkata,” Antum duduk saja biar yang lain saja.” Tidak, Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini. Aku sudah kehilangan kesempatan membahagiakanmu di dunia. Aku sudah kehilangan kesempatan membalas dengan baik pelayananmu kepadaku. Biarlah hari ini aku melayanimu walaupun sekedar mengurus jasadmu.Terimakasih istriku, selama hidupmu kau selalu berusaha tidak merepotkanku. Ketika aku ke bengkel untuk menambal ban, aku mengabarkan kematianmu dan memohon doa untukmu. Tukang tambal ban, mendoakannya dan  berkata,” Istri sampeyan sering ke sini sendiri, menuntun sepeda motor untuk menambal ban, atau kadang ganti ban motor”. Sekuat tenaga ku tahan airmataku. Aku tahu sebenarnya itu adalah tugasku. Kubayangkan adakah wanita lain yang mau  menuntun motor ke bengkel untuk menambal ban karena tidak ingin merepotkan suaminya. Mungkin kamu saat ini telah tersenyum bahagia bercanda bersama Abdullah, putra kita. Mungkin kamu sudah bertemu dengan ayah ibumu yang sangat kamu cintai. Walaupun aku betul-betul kehilanganmu, aku tahu bahwa karunia syahid yang Allah SWT berikan kepadamu adalah yang terbaik untukmu.

Istriku, aku menulis ini untuk menumpahkan rindu yang bergejolak di hatiku. Aku juga berharap agar orang yang membacanya mau meringankan lidahnya untuk mendoakanmu. Aku berharap tulisan ini dapat membalas jasamu kepadaku. Sungguh betapa lambatnya hari-hari berlalu tanpamu.

Ingin rasanya aku segera masuk ke surga agar dapat bertemu kembali denganmu. Selamat jalan Khadijahku.

Balikpapan, hari ke sembilan belas tanpamu di sisikuYang bersyukur mendapatkanmu

Suamimu,


 
Hadidhono B. Hartono
 
Tidak ada istirahat bagi seorang mu’min kecuali jika telah berada di surga‬.

Fakta Ilmiah Kurma, Persalinan, dan Keajaiban AlQur’an

Fakta Ilmiah Kurma, Persalinan, dan Keajaiban Al Quran

Bagi setiap wanita yang hamil, proses melahirkan adalah peristiwa yang sangat mendebarkan dan bagian dari perjuangan antara hidup dan mati. Oleh karena itu, melewati proses melahirkan dengan normal, lancar dan sehat, adalah dambaan setiap wanita yang telah memasuki masa kandungan 9 bulan.

Dalam al-Qur’an, surat Maryam ayat 25-26, Allah SWT telah memberi petunjuk kepada Maryam, saat dia menghadapi masa-masa sulit – kelahiran putranya yang kelak menjadi utusan Allah, yaitu nabi Isa Al-Masih.
Allah SWT berfirman :

    “Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan,  minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah : “Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Rabb yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.” (Maryam:25-26).

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, membawakan perkataan Amr bin Maimun di dalam tafsirnya : “Tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi perempuan nifas kecuali kurma kering dan kurma basah.”

Dokter Muhammad An-Nasimi dalam kitabnya, Ath-Thibb an-Nabawi wa al-’Ilmi al-Hadits, mengatakan :

    “Hikmah dari ayat yang mulia ini secara kedokteran adalah, perempuan hamil yang akan melahirkan itu sangat membutuhkan minuman dan makanan yang kaya akan unsur gula, hal ini karena banyaknya kontraksi otot-otot rahim ketika akan mengeluarkan bayi, terlebih lagi apabila hal itu membutuhkan waktu yang lama. Kandungan gula dan vitamin B1 sangat membantu untuk mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistole-nya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi).  Dan kedua unsur itu banyak terkandung dalam ruthab (kurma basah). Kandungan gula dalam ruthab sangat mudah untuk dicerna dengan cepat oleh tubuh.”

Buah kurma matang sangat kaya dengan unsur kalsium dan besi. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi perempuan yang sedang hamil dan yang akan melahirkan.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Obstetrics and Gynaecology, mengungkap fakta perempuan yang makan kurma setiap hari saat kehamilannya 9 bulan memiliki risiko lebih kecil membutuhkan bantuan dari obat-obatan dalam proses persalinannya

Bahkan, mereka cenderung lebih siap secara fisik dan melalui proses persalinan  tujuh jam lebih cepat ketimbang yang tidak mengasup kurma.”Kurma tampaknya memiliki senyawa mirip dengan hormon oksitosin yang menyebabkan kontraksi,” kata Melinda Johnson, Ms, Rd, juru bicara dari Academy of Nutrition and Dietetics.

Bahkan Allah SWT memerintahkan kepada Maryam al-Adzra (perawan) untuk memakannya ketika sedang nifas (setelah melahirkan). Kadar besi dan kalsium yang dikandung buah kurma matang sangat mencukupi dan penting sekali dalam proses pembentukan air susu ibu.

Kadar zat besi dan kalsium dan kalsium yang dikandung dalam buah kurma juga dapat menggantikan tenaga ibu yang terkuras saat melahirkan atau menyusui. Zat besi dan kalsium merupakan dua unsur efektif dan penting bagi pertumbuhan bayi. Hal itu karena dua unsur ini merupakan unsur yang paling berpengaruh dalam pembentukan darah dan tulang sumsum. (hidupsehatcaranabi/jurnalhajiumroh)

Sumber: MyQuran

Suami Harapan, Harapan Istri

Suatu saat, Aisyah ra istri terkasih Rasulullah saw bercerita kepada suaminya, tentang sebelas perempuan yang saling berjanji untuk jujur dan tidak saling merahasiakan sesuatu pun tentang tingkah laku suaminya. Perempuan pertama berkata, “Suamiku laksana daging onta busuk yang terletak di puncak gunung.” Kita tahu, puncak gunung itu susah untuk didaki, sekalipun daging itu sudah busuk, ia tak mudah juga diambil. Maksudnya suaminya itu sangat bakhil kepada istrinya dan akhlaknya pun sangat buruk.

Perempuan kedua bercerita, “Riwayat suamiku tak dapat aku sebutkan satu persatu. Aku khawatir berkepanjangan untuk dibicarakan. Jika aku ceritakan, aku takut bulu kuduk yang mendengarkan berdiri semua dan keringatnya pun menjadi bercucuran.” Ia memberi isyarat betapa kasar dan mempunyai banyak aib suaminya itu. Cerita itu bisa membuat pendengarnya jengkel dan mengeluarkan keringat dingin.

Yang ketiga bercerita, “Suami saya sangat cerewet. Kalau saya bicara, ia jatuhkan thalaq. Kalau saya diam saja, ia biarkan saya terkatung-katung.” Sang suami memang tak mau ditunjukkan kesalahannya. Ia bisa menceraikan sang istri bila sang istri berani mengkritiknya. Tetapi bila sang istri diam saja, ia sendiri yang akan mengalami kesusahan.

Yang keempat menuturkan, “Suami saya ibarat hawa Tihawah. Tidak panas tapi tidak dingin, tidak menakutkan juga tidak membosankan.” Suaminya datar-datar saja.

Yang kelima berkata, “Suami saya kalau di rumah ibarat daun si malu-malu, tetapi kalau sudah keluar rumah seperti singa dan tak perlu ditagih apa yang dijanjikannya.” Inilah tipe suami yang malas, cuek dan tak mau tahu urusan rumah tangga bila di rumah, tetapi bila berada di luar rumah ia gesit dan berani.

Yang keenam berkata, “Suami saya kalau makan rakus, kalau minum tak pernah bersisa, kalau tidur tak berganti pakaian dan tak pernah membuka telapak tangannya supaya ketahuan penderitaannya.” Suami tipe ini sangat suka menyimpan rahasia, ia tak ingin urusannya diketahui orang lain dan tak mau juga menceritakan penderitaannya.

Yang ketujuh berkata, “Suami saya tukang pukul, pandir, semua sifat jelek ada padanya. Ia suka melukai kepalamu, badanmu atau kedua-duanya.”

Yang kedelapan berkata, “Suami saya kulitnya halus laksana bulu kelinci dan wangi laksana bunga melati.”

Yang kesembilan berkata, “Suami saya rumahnya besar, pedangnya panjang, asap dapurnya tak pernah berhenti dan pintu rumahnya selalu terbuka.”

Yang kesepuluh berkata, “Suamiku adalah raja, bahkan lebih dari itu. Ia punya onta lebih banyak di kandang dan jarang keluar. Kalau mendengar suara genderang, onta-onta itu sudah merasa akan mati.” Maksudnya, suaminya ini sangat menghormati tamu dan selalu tersedia jaminan bagi tamunya.

Yang kesebelas berkata, “Suamiku ibarat Abu Zar”. Siapakah Abu Zar itu? Yaitu orang yang telinganya sarat dengan hiasan dan ototnya kekar. Ia pandai menyenangkanku dan aku pun dapat menyenangkannya. Ia menyusul aku ke padang rumput dengan susah payah, lalu ia berhasil menjadikan aku memiliki kuda, onta, tepung dan penggilingan. Bila di sisinya, aku suka berbicara dan tak pernah mencelanya. Aku enak tidur siang dan makan dengan santai.

Lalu, siapakan Ummu Zar itu? Yaitu yang lumbung makanannya banyak dan rumahnya luas. Siapakah Ibnu Abi Zar? Yaitu yang tempat tidurnya laksana sarung pedang dan bisa menjadi kenyang dengan susu induk angsa. Siapakah puteri Abi Zar? Ia adalah kesayangan ayah dan ibunya, badannya berisi dan membuat para tetangga kanan kiri menjadi iri.”

Siapa pula tetangga Abi Zar? Mereka tidak suka menyebarkan kesana kemari omongan kita, tidak suka mengambil barang-barang kita dan tidak suka memenuhi rumah kita dengan sampah kurma yang jelek.”

Ummu Zar melanjutkan ceritanya, “Suatu hari, Abu Zar sudah keluar rumah pagi-pagi sekali. Ia bertemu dengan perempuan muda yang menggendong kedua anaknya yang menggantungi dirinya seperti anak kera di bawah kedua payudaranya. Kemudian ia menceraikan saya dan menikah dengan perempuan yang ditemuinya itu. Beberapa waktu setelah itu, saya pun menikah dengan laki-laki lain yang terhormat di kalangan sahabatnya. Ia seorang penunggang kuda, pemanah dan memberikan kepadaku kesenangan-kesenangan yang sangat banyak serta menghadiahkan kepadaku setiap binatang sejodoh-sejodoh. Ia berkata, “Makanlah dan berikanlah kepada keluargamu wahai Ummu Zar.”

Ummu Zar berkata, “Andaikata seluruh pemberiannya saya kumpulkan jadi satu, tidak akan sampai sekaleng kecilnya dari pemberian Abu Zar.”

Lalu Aisyah berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Aku dan kamu ibarat Abu Zar dan Ummu Zar.” Dan dalam riwayat lain ditambahkan, “Tetapi Abu Zar menthalaq Ummu Zar, sedangkan saya tidak menthalaq kamu.” Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, bahkan engkau lebih baik dari Abu Zar’.

Subhanallah, sejarah telah mencatatkannya untuk kita. Betapa sesungguhnya, setiap manusia mempunyai harapan, keinginan dan cita-cita. Begitu pun seorang istri. Ia membutuhkan ruang, waktu dan teman untuk berbagi, menumpahkan keinginan, menceritakan keadaan diri dan suaminya, agar ia tahu, ia tidak sendiri. Agar ia mempunyai keyakinan bahwa setiap orang memiliki harapan dan cita-cita untuk hidup yang lebih baik.

Ibarat rezeki, seorang suami adalah hadiah dari Allah. Bila mendapat suami sebagaimana Abu Zar, tentu berlaksa-laksa syukur senantiasa kita lantunkan dalam setiap detik kehidupan kita. Tetapi, bila kebetulan sang suami adalah daging onta busuk yang untuk mengambilnya pun harus mendaki gunung, mestikah mematikan rasa syukur yang menjadi kunci untuk menambah datangnya nikmat Allah?

Pertanyaan retoris ini tentu tak usah dijawab. Bila setiap diri memiliki hati sebagai jembatan untuk mengadu rindu kepada Allah, tentu harapan-harapan sebesar apapun tak perlu ragu untuk dimiliki. Karena Allah yang Maha Mendengar itu, tak pernah tidur. Allah pengabul segala harap. Ia yang berkuasa untuk membolak-balik hati, Ia pula yang tak pernah menghitung kapan hidayah akan menyapa lembut hati hambaNya. Setiap diri, memiliki saat istimewa untuk merunduk kepadaNya. Jangan pernah saat–saat itu lepas. Berharaplah kepadaNya agar karakter Abu Zar (tanpa ada perceraian), semakin banyak menghiasi akhlak suami.

…Dan laki-laki tidaklah sama dengan perempuan.” (AQ Ali Imran :36).

Untuk para ibu, yang  juga manusia yang sangat biasa, pun suami kita. Tak mungkin  mengharapkan suami sebagaimana Rasulullah saw karena bukan bunda Aisyah. Begitu pula sebaliknya. Tetapi, mengharapkan suami mau mendengar isi hati adalah hak seorang istri, mengharapkan suami menjadi lebih baik tanpa mengubahnya menjadi robot mekanis yang tak enak lagi menjadi teman berbagi juga adalah hak seorang istri. Maka, kewajiban istrilah menata diri agar layak menjadi istri harapannya. Dan mempertemukan harapan-harapan itu adalah keindahan, bila kita mengerti apa saja yang mestinya kita butuhkan untuk memadukan harapan.

Engkau yang terbaik yang dipilihkan Allah

Deretan kata-kata di atas adalah buah dari ‘al fahmu‘ yang kita peroleh kekayaan maknanya dari bilik-bilik pengajian setiap pekannya. Ia berisi gumpalan akidah yang telah menemui kebaikannya karena keyakinan bahwa Allah tak salah meletakkan takdirNya. Keyakinan ini membuat kita ikhlas menerimanya. Pun ia juga membuat kita tak mudah berpaling, berharap pada yang lain atau sesekali menoleh ke masa lalu yang sudah kita tutup bukunya.

 ” Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan lakil-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula)….” (QS An Nur : 26)

Sesungguhnya, rezeki telah ditetapkan oleh Allah dan telah jelas pula pencatatannya. Begitu pun jodoh. Ketika akad nikah diucapkan, sesungguhnya, di situlah letak kebaikan dan ukuran serta kadar keimanan kita bertemu dengan pasangan kita. Ibarat kunci bertemu dengan anak kunci, ia sudah pas, tak ada kunci lain yang bisa memasukinya.

Karena ia amanah Allah, maka kunci tadi layak dirawat, agar tak kepanasan atau kehujanan di luar rumah, agar ia tak berkarat atau rusak. Karena bila sang kunci rusak, maka ia tak bisa lagi masuk ke lubang kunci. Begitulah perjodohan. Ia harus dirawat. Ia harus dibiarkan berkembang. Ia adalah cinta kasih yang senantiasa harus ditumbuhkan. Bila pekerjaan ini lancar dilakukan, deposit tabungan cinta akan bertambah, maka rumah tangga akan menjadi surga dunia bagi penghuninya.

Bila ada kekecewaan dan konflik di dalam rumah pernikahan, sesungguhnya, itu adalah kewajaran. Dua hal itu justru  pintu yang akan merekatkan dan menguatkan bila cara penyelesaiannya benar-benar sehat dengan komunikasi produktif dan intensif, maka itulah ta’aruf setelah pernikahan dengan cara yang lain. Dan setelah hal itu usai, mereka akan menambah lagi deposit tabungan cinta.

Ada masanya memang, tabungan cinta itu akan berkurang, bila kekecewaan menumpuk, konflik dibiarkan berkembang dan tak bersama mencari solusi. Maka ada beberapa kemungkinan, kekecewaan terpendam di hati atau meledaknya kekecewaan  menjadi bisul bernanah.

Bila kemudian dihitung-hitung, lebih banyak manakah antara penambahan tabungan dan pengurangannya, itulah jalan pernikahan yang selanjutnya. Perlu bekerja lebih banyak bila ternyata tabungan itu defisit dan berkurang di setiap saatnya. Dan perlu menambah syukur bila tabungan cinta itu bertambah di setiap kali interaksi terjadi.

Begitulah rumah tangga, ia adalah kombinasi sabar dan syukur, kombinasi berbagi dan menerima, kombinasi ketergantungan dan kemandirian, kombinasi  tawa dan tangis, kombinasi saling bantu dalam biduk ketentraman. Begitulah rumah tangga, skala penambahan ibadah yang tak pernah ada batasnya.

Oleh: Asri Widiarti