Berlomba-Lomba di Shaf Pertama

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Seringkali kita meremehkan meraih kebaikan. Bahkan merasa tidak mengapa jika dikalahkan oleh saudara kita. Padahal dalam berbagai ayat kita diperintahkan untuk bersegera melakukan kebaikan dan ketaatan serta berlomba-lomba di dalamnya. Begitu pula dalam berbagai hadits kita diperintahkan untuk menjadi terdepan.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا

“Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al Ma’idah: 48)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Lihat pula bagaimanakah perkataan salafush sholeh yang memotivasi kita bisa menjadi number one dalam kebaikan dan harusnya sedih jika memang dikalahkan oleh yang lain.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,  “Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.”

Wahib bin Al Warid mengatakan, “Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridho Allah, lakukanlah.”

Sebagian salaf lagi mengatakan, “Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.”[1]

Yang Bisa Dipraktekkan

Yang bisa kita praktekkan secara sederhana setiap harinya adalah terdepan dalam shaf pertama dalam shalat Jama’ah. Ini khusus bagi pria.

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Shaf yang terbaik bagi laki-laki adalah shaf pertama, yang paling jelek adalah shaf terakhir. Sedangkan shaf yang terbaik bagi wanita adalah shaf terakhir, yang paling jelek adalah shaf pertama (karena semakin dekat dengan kaum laki-laki, pen)”.[2]

Syaikh ‘Abdul Karim Khudair mengatakan, “Maksud hadits ini adalah bahwa shaf laki-laki yang utama adalah shaf yang pertama, kemudian baru shaf yang berikutnya hingga shaf yang terakhir. Shaf yang paling jelek adalah shaf yang sedikit ganjarannya karena semakin jauh dari imam. Shaf terakhir ini diperoleh karena seringkali telat dalam menghadiri shalat jama’ah dan selalu mengakhirkan panggilan shalat berjama’ah. Sedangkan yang berada di shaf pertama itulah yang lebih bersegera dalam memenuhi panggilan shalat jama’ah. Jika seseorang melakukan shalat berjama’ah dan lebih dekat dengan imam, tentu itu akan lebih mempengaruhi shalatnya. Apalagi jika dalam shalat jahriyah (yang dikeraskan bacaannya). Apalagi pula dalam shalat shubuh. Dalam shalat tersebut lebih akan disimak bacaannya tentunya.”

Syaikh hafizhohullah selanjutnya menjelaskan, “Dalam hadits tersebut dikatakan bahwa sebaik-baik shaf bagi pria adalah shaf pertama. Namun seringkali kita lihat sebagian orang datang melaksanakan shalat berjama’ah, namun malah duduk-duduk di shaf belakang. Sampai ketika iqomah dikumandangkan, dia hanya mendapati shaf keempat atau kelima. Padahal sebenarnya ia mampu berada di shaf pertama.”[3]

Dalam masalah dunia, kita bisa mendahulukan orang lain, itu memang yang lebih baik. Karena dalam masalah dunia, kita harus memperhatikan orang di bawah kita agar kita bise mensyukuri nikmat Allah.

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al kholq], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.”[4]

Namun dalam masalah akhirat, jangan sampai seperti itu. Dalam hadits disebutkan,

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا

“Seandainya setiap orang tahu keutamaan adzan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi.”[5]

Jika seseorang dalam perkara sederhana seperti ini sudah berlomba-lomba menjadi yang terdepan, maka dengan pembelajaran seperti ini ia tentu tidak mau kalah dalam masalah akhirat lainnya.

Semoga dengan risalah ringkas ini membuat kita semakin semangat dalam ketaatan dan berlomba-lomba menjadi yang terdepan. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Riyadh-KSA, 7 Rabi’uts Tsani 1432 H (12/03/2011)

http://www.rumaysho.com

[1] Latho-if Ma’arif, hal. 268

[2] HR. Muslim no. 440.

[3] Dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdul Karim Khudair dalam Syarh Al Muharror, Kitab Ash Sholah (37). Lihat pada link: http://www.khudheir.com/text/5470

[4] HR. Bukhari no. 6490 dan Muslim no. 2963

[5] HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437

Sifat-Sifat Wanita yang dibenci Allah

Bismillahirrahmanirrahim

Diantara sifat wanita yang dibenci Allah adalah sebagai berikut :

1.> ANAANAH

Yaitu wanita yang selalu mengeluh dan mengadu serta kepalanya berbalut setiap saat. Menikahi wanita yang membuat-buat atau pura-pura sakit ini tidaklah baik.

2.> MANAANAH

Yaitu wanita yang senantiasa menyebut-nyebut pemberiannya kepada suaminya hingga ia berkata .” Aku telah melakukan untukmu begini, begitu, begini dan begini .”

3.> HADAAQAH

Yaitu wanita yang selalu menginginkan apa yang dilihatnya sehingga ia membebani suaminya untuk membelinya. Setiap kali mengujungi temannya dan melihat sesuatu yang dimilikinya ia tertarik dan ingin membelinya.

4.> HANAANAH

Yaitu istri yang terlalu sayang dengan suami sebelumnya atau kepada anak-anak dari suami pertamanya atau selalu rindu kepada rumah keluarganya. Wanita begini lebih bauik dijauhi.

5.> BARAAQAH

Mengandung dua makna. wanita yang diwaktu siang ia bersolek dan menghias wajahnya agar nampak cantik berkilau, atau wanita yang sering suka marah karena makanan.

6.> SYADAAQAH

Yaitu wanita yang banyak berbicara.

Dikisahkan dari Sa’ih Al-Azdi bahwasanya ada seorang yang memberinya nasehat demikian. ” Janganlah menikahi wanita yang memiliki empat tipe berikut :
Mukhtali’ah, Mubaariyah, ‘aahirah dan naasyiz.

7.> MUKHTALI’AH

Yaitu wanita yang suka menuntut ‘khulu’ yaitu cerai dengan harta yang dibayarkan oleh pihak istri atau mahar yang duikembalikan kepada suami tanpa sebab.

8.> MUBARIYAH

Yaitu wanita yang sombong dan membanggakan faktor-faktor dunia.

9.> ‘AAHIRAH

Yaitu wanita yang memiliki kekasih lain.

10.> NAASYIZ

Yaitu wanita yang mendominasi suaminya, baik perkataan maupun perbuatannya.

Selain yang tersebut diatas, berikut ini masih ada tambahan kriteria wanita yang yidak baik untuk dinikahi.

11.> MAL’UUNAH

Yaitu wanita yang dilaknat oleh Rasulullah saw dan kita disuruh melaknatnya karena Tabarruj nya [berdandan ala jahiliyah] dan perbuatannya yang menyebarkan fitnah diantara manusia serta tidak taat kepada Allah dan suaminya.

12.> FARIK

Yaitu wanita yang selalu marah pada suaminya

Sahabatku sayang, mari kita pakai semua yang tertulis disini untuk menjadi cerminan diri kita, adakah kita termasuk diantaranya? Jika ia, mari kita bersama-sama memperbaiki diri dari sifat tersebut agar kita menjadi seorang wanita yang ideal yang di cintai Allah dan suami kita tentunya. Yaitu menjadi istri yang shaleha, aamiin …

Karena Rasulullah Begitu mencintai kita

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

SAHABAT seiman..,

Subhanallah, sebelum yang lain meNYAPA, tatkala semua ALPA, Ya Allah! Engkau tak pernah lupa tuk menabur nikmat pagi beserta fasilitasnya. Demikian pula engkau ya Rasulullah, DOAMU menyertai hamba: ya Allah berkahilah UMMATku di pagi harinya. Sungguh, dari sana kami tangkap lembutnya cinta..

SAHABAT seiman..,

Mari sejenak ketuk hati yang masih tertutup kantuk, bisikkan kata cinta penuh Ridho, tentang cinta seorang pembawa risalah tergambar dalam untaian mutiara kata, Allah berfirman, artinya: “SUNGGUH, telah datang seorang RASUL dari kaummu sendiri, BERAT terasa olehnya PENDERITAAN yang kamu alami. DIA sangat menginginkan (keselamatan) BAGImu, penyanTUN dan PENYAyang terhadap orang-orang yang berIMAN” (Q.S. At Taubah: 128)

Sahabat SEIMAN!

Beliau juga MANUSIA, yang punya CINTA kepada keluarga dan juga CITA-cita, tetapi dia TAK pernah EGOIS dalam DOAnya, pernah beliau memohon kepada ALLAH agar umatnya tidak ditimpa adzab seperti ummat terdahulu. Ia selalu berusaha mencari celah tuk menyelamatkan ummatnya, Hijrah ke Habasyah menjadi saksinya, penderitaannya di Thaif adalah bukti pengorbanannya, bai’atul ‘aqobah menuju hijrah madinah adalah diantara kerja kerasnya!

SAhabat SEiman..!,

Kini kala dia dihina apakah hanya diam yang kita bisa? mungkinkah tak ada bukti cinta kepadanya, lantaran LALai kita mengenang cintanya, tak tau sejarah perjuangannya, dan TAK PERDULI kepada SUNNAHnya? Bahkan NA’UDZU BILLAH bila sampai tak ACUH diPIMPIN sekalipun oleh orang yang TAK TAU sunnahnya dalam berwudhu, apalagi mau MEMperjuangkan SUNNAHnya tegak di muka bumi! Mari buktikan cinta kita kepada Rasulullah dalam setiap sisi hidup kita, selamat beraktifitas!